Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Tonsilitis : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Gambar Tonsilitis
Gambar Tonsilitis

Definisi

Tonsilitis atau radang amandel adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu: tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/ Gerlach’s tonsil). (Kode ICD 10 Tonsilitis: J00)

Penyakit ini banyak diderita oleh -anak berusia 3 sampai 10 tahun dan anak remaja berusia 15 hingga 25 tahun.

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada tenggorokan.

Gejala lainnya tergantung penyebab tonsilitis.

  1. Penderita amandel akut awalnya mengeluh rasa kering di tenggorokan, kemudian berubah menjadi rasa nyeri di tenggorokan dan nyeri saat menelan. Rasa nyeri semakin lama semakin bertambah sehingga anak menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga (otalgia) tersebut tersebar melalui nervus glossofaringeus (IX). Keluhan lainnya berupa demam yang dapat sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak. Rasa nyeri kepala, badan lesu dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut. Suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas. Keadaan ini disebut plummy voice/ hot potato voice. Mulut berbau (foetor ex ore) dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat (ptialismus). Tonsilitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorokan.
  2. Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada penghalang/ mengganjal di tenggorokan, tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau (halitosis).
  3. Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) gejala yang timbul adalah demam tinggi (39ºC) , nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorokan, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi.

Faktor Risiko

  1. Faktor usia, terutama pada anak.
  2. Penurunan daya tahan tubuh.
  3. Rangsangan menahun (misalnya rokok, makanan tertentu).
  4. Higiene rongga mulut yang kurang baik.

Pemeriksaan Fisik

a. Tonsilitis akut: pada pemeriksaan ditemukan tonsil yang udem (ukuran membesar), hiperemis dan terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis, bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga terbentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupiruang antara kedua tonsil sehingga tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior juga tampak udem dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak di belakang angulus mandibula terlihat membesar dan ada nyeri tekan.

b. Tonsilitis kronik: pada pemeriksaan fisik ditemukan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar, dan kriptus berisi detritus. Tanda klinis pada Tonsilitis Kronis yang sering muncul adalah kripta yang melebar, pembesaran kelenjar limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan. Tanda klinis tidak harus ada seluruhnya, minimal ada kripta yang melebar dan pembesaran kelenjar limfe submandibular.

c. Tonsilitis difteri: pada pemeriksaan ditemukan tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah.

d. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:

  1. T0: tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat. 2. T1: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula.
  2. T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringatau batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula.
  3. T3: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula.
  4. T4: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.

Pemeriksaan Penunjang

  • Darah lengkap
  • Usap tonsil untuk pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram

Diagnosis Klinis

Diagnosis radang amandel ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis definitif dengan pemeriksaan penunjang.

Klasifikasi tonsilitis:

a. Tonsilitis Akut

  1. Tonsilitis viral Virus Epstein Barr adalah penyebab paling sering. Jika terjadi infeksivirus coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien.
  2. Tonsilitis bakterial Peradangan akut tonsil yang dapat disebabkan oleh kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridan dan streptococcus piogenes. Haemophilus influenzae merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus. Masa inkubasi 2-4 hari.

b. Tonsilitis Membranosa

  1. Tonsilitis difteri; radang amandel amandel ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titerantitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat endotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan, pesudomembran yang meluas ke faringolaring dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas atas yang merupakan keadaan gawat darurat serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria.
  2. Tonsilitis septik, Penyebab nya adalah Streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan epidemi. Oleh karena itu di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
  3. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C.
  4. Penyakit keganasan Pembesaran tonsil dapat merupakan manifestasi dari suatu keganasan seperti limfoma maligna atau karsinoma tonsil. Biasanya ditemukan pembesaran tonsil yang asimetris.

c. Tonsilitis Kronik

Tonsilitis kronik timbul karena rangsangan yang menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Diagnosis Banding

a. Faringitis.

b. Tumor tonsil.

Komplikasi Radang Amandel

a. Komplikasi lokal

  1. Abses peritonsil (Quinsy)
  2. Abses parafaringeal
  3. Otitis media akut

b. Komplikasi sistemik

  1. Glomerulonephritis
  2. Miokarditis
  3. Demam reumatik dan penyakit jantung reumatik

Pengobatan Tonsilitis

a. Istirahat cukup

b. Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi

c. Menjaga kebersihan mulut

d. Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur antiseptik

e. Pemberian obat oral sistemik

  1. Pada tonsilitis viral istirahat, minum cukup, analgetika, antivirus diberikan bila
    gejala berat. Antivirus metisoprinol (isoprenosine) diberikan pada infeksi virus dengan dosis 60100mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak <5tahun diberikan 50mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari.
  2. Radang amandel akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group A, diberikan antibiotik yaitu Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal atau Amoksisilin 50 mg/ kgBB dosis dibagi 3 kali/ hari selama 10 hari dan pada dewasa 3×500 mg selama 6-10 hari atau eritromisin 4×500 mg/hari. Selain antibiotik juga diberikan kortikosteroid karena steroid telah menunjukkan perbaikan klinis yang dapat menekan reaksi inflamasi. Steroid yang dapat diberikan berupa deksametason 3×0,5 mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi 3 kali pemberian selama 3 hari.
  3. Pada tonsilitis difteri, Anti Difteri Serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung umur dan jenis kelamin. Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg/kgBB/hari. Antipiretik untuk simptomatis dan pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu
  4. Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) diberikan antibiotik spektrum luas selama 1 minggu, dan pemberian vitamin C serta vitamin B kompleks.

Pengobatan tonsilitis kronik:

  1. Diberikan obat-obatan simptomatik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.
  2. Indikasi tonsilektomi.

Indikasi Tonsilektomi Menurut Health Technology Assessment, Kemenkes tahun 2004, indikasi tonsilektomi, yaitu:

a. Indikasi Absolut:

  1. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonar
  2. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
  3. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
  4. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

b. Indikasi Relatif:

  1. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
  2. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis
  3. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptococcus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik laktamase resisten.

Konseling dan Edukasi

Memberitahu individu dan keluarga untuk:

  1. Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko kekambuhan cukup tinggi.
  2. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
  3. Berhenti merokok.
  4. Selalu menjaga kebersihan mulut.
  5. Mencuci tangan secara teratur.
  6. Menghindari makanan dan minuman yang mengiritasi.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri.

Tags:

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!