Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Thyroiditis Hashimoto : Makalah/Referat

Patologi Anatomi Thyroiditis hasimoto
Thyroiditis Hashimoto

PENGERTIAN

Kelenjar thyroid adalah kelenjar yang membungkus sekeliling daerah pada dasar tenggorokan yang mempunyai bentuk seperti kupu-kupu dan mensekresi hormon tiroid yang mempengaruhi metabolisme tubuh.

Salah satu penyakit yang mengenai kelenjar thyroid adalah Thyroiditis Hashimoto, yang merupakan bentuk paling umum dari penyakit Thyroiditis, yaitu Chronic Thyroiditis Autoimmune, karena Thyroiditis Hashimoto terjadi akibat dari reaksi autoimun, dimana antibodi dalam tubuh menyerang kelenjar thyroid.

Sebagian besar penderita Thyroiditis Hashimoto tidak menyadari bila menderita penyakit tersebut, karena gejala awalnya sangat ringan, dan penyakit ini berkembang sangat lambat, mungkin berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.(11)Tetapi Thyroiditis Hashimoto merupakan penyakit yang bersifat progresif yang semakin lama akan menghancurkan kelenjar thyroid dan menyebabkan kekurangan hormon thyroid.(9) Penyebab Thyroiditis Hashimoto tidak diketahui secara pasti, namun diduga sebagai suatu kelainan autoimun.(11)

Insidensi Thyroiditis Hashimoto

Insiden Thyroiditis Hashimoto didunia diperkirakan sekitar 0,3 – 1,5 kasus per 1000 populasi pertahun.(6)Insiden tersering terjadi pada wanita 10 –15 kali lebih sering daripada pria, dapat mengenai semua usia, tetapi terutama pada usia pertengahan antara 30 –50 tahun.(6,7,9) Pada Thyroiditis Hashimoto tidak ada perbedaan yang jelas mengenai ras yang terkena.(6)Berkaitan dengan adanya riwayat penyakit thyroid dalam keluarga dan kemungkinan terdapat faktor predisposisi kelainan genetik yang diturunkan secara  autosomal dominant.(9)

Thyroiditis Hashimoto mungkin berkaitan dengan kelainan endokrin lainnya yang disebabkan penyakit autoimun seperti diabetes tipe I, reumathoid arthritis dan Lupus erythematous, insufisiensi adrenal yang dikenal dengan “Type 2 polyglandular autoimmune syndrome “ (PGA II). (11) Meskipun jarang tetapi bila Thyroiditis Hashimoto muncul bersamaan dengan hypoparathyroidisme, insufisiensi adrenal dan infeksi jamur pada mulut dan kuku disebut “ Type 1 polyglandular autoimmune syndrome” (PGAI). (11)

ANATOMI THYROID

Thyroid pada masa perkembangan ( didalam kandungan ) asal mulanya berkembang dari penonjolan endodermal pada garis tengah dasar pharynx, diantara tuberculum impar dan copula. Nantinya penebalan ini berubah menjadi divertikulum yang disebut ductus thyroglossalis yang kemudian berkembang memanjang dan ujung distalnya menjadi berlobus dua, dan terletak dibelakang lidah, pada minggu ketujuh tiba pada posisi akhirnya di dekat larynx dan trachea.

Sedangkan tempat asal ductus thyroglossalis pada lidah menetap sebagai suatu sumur kecil yang disebut foramen caecum linguae. Kemudian, kedua lobus pada ujung terminal ductus thyroglossalis akan membesar akibat proliferasi epitel dan membentuk kelenjar thyroid.(3)

Kelenjar thyroid adalah suatu kelenjar yang kecil bentuknya seperti kupu-kupu dan memiliki berat kurang dari 1 ons (10-30 gram). Kelenjar thyroid adalah organ yang sangat  vaskular, dan dibungkus oleh selubung yang berasal dari lapisan pretracheal. Selubung ini melekatkan kelenjar pada laring dan trakea. (3)

Letak kelenjar tyroid

Kelenjar thyroid terletak dibelakang musculus Sternothyroideus dan musculus Sternohyoideus setinggi vertebra cervicalis V sampai vertebra thoracica I. Kelenjar thyroid terdiri dari dua lobus,  kanan dan kiri yang terletak anterolateral terhadap larynx dan trachea dan dihubungkan oleh isthmus yang biasanya terletak didepan cartilagines trachealis II – III. (3)

Setiap lobus memiliki bentuk seperti pear, dengan bagian apex mengarah ke atas sampai dengan linea oblique pada lamina cartilago thyroid. Dasarnya terletak dibawah, setinggi cincin trakea ke-4 atau ke-5. Isthmus memanjang melintasi garis tengah didepan cincin trakea ke-2, ke-3, dan ke-4.(3)

Juga sering didapatkan lobus pyramidalis yang menjalar keatas berasal dari isthmus, biasanya ke sebelah kiri dari garis median. Suatu pita fibrosa atau muskular sering menghubungkan lobus pyramidalis dengan os. Hyoideum, jika berupa muscular disebut musculus levator glandulae thyroidea. (3)

Perdarahan :(3,4)

Kelenjar thyroidea memperoleh darah dari (1) arteria thyroidea superior dan (2) arteria thyroidea inferior dan kadang-kadang (3) arteria thyroidea ima. Pembuluh-pembuluh ini terletak antara capsula fibrosa dan fascia pretrachealis fasciae cervicalis profundae. Ketiganya beranastomosis diatas permukaan kelenjar.

(1). Artery thyroidea superior

Merupakan cabang pertama artery carotis externa, yang berjalan melintas turun ke kutub atas masing-masing lobus kelenjar thyroid, bersama dengan ramus laryngeus externus. Menembus fascia pretrachealis, dan membentuk ramus glandularis anterior dan ramus glandularis posterior.

(2). Artery thyroidea inferior

Merupakan cabang truncus thyrocervicalis, berjalan naik di belakang kelenjar thyroid sampai setinggi cartilago cricoidea. Kemudian membelok kemedial dan bawah dibelakang carotid sheath, mencapai batas posterior kelenjar thyroid.

(3). Artery thyroidea ima ( jika ada )

Merupakan cabang dari artery brachiocephalica  atau arcus costae. Berjalan naik didepan trachea menuju isthmus.

Kelenjar thyroidea memiliki tiga pasang vena thyroidea, yang biasanya menyalurkan darah dari pleksus vena pada permukaan anterior kelenjar thyroidea dan trachea.

Vena-vena tersebut ialah :(3,4)

(1). Vena thyroidea superior

Menyalurkan darah dari kutub atas kelenjar dan bermuara ke dalam vena jugularis interna.

(2). Vena thyroidea media

Menyalurkan darah dari bagian tengah kedua lobus dan bermuara ke vena jugularis interna.

(3). Vena thyroidea inferior

Menyalurkan darah dari kutub bawah kelenjar dan bermuara ke dalam vena brachiocephalica.

Pembuluh limfe kelenjar thyroid :(3)

Pembuluh limfe kelenjar thyroid melintas didalam jaringan ikat antar lobul, seringkali mengitari arteri-arteri, dan berhubungan dengan anyaman pembuluh limfe kapsular. Dari sini pembuluh limfe menuju ke nodi prelaryngeales, nodi lymphoidei cervicales anteriores profundi pretracheales, dan nodi lymphoidei cervicales anteriores profundi paratracheales. Disebelah lateral pembuluh limfe mengikuti vena thyroidea superior dan melintas ke nodi lymphoidei cervicales profundi.

Persarafan kelenjar thyroid :(3)

– saraf kelenjar thyroidea berasal dari ganglion cervicale superius, ganglion cervicale medium, dan ganglion cervicale inferius. Saraf-saraf ini mencapai kelenjar thyroidea melalui nervus cardiacus, nervus laryngeus superior, dan nervus laryngeus inferior, serta nervus-nervus sepanjang arteri – arteri thyroid.

FISIOLOGI HORMON THYROID

Kelenjar thyroid adalah satu-satunya kelenjar dalam tubuh yang memiliki sel-sel dengan kemampuan menyerap iodium. Penyerapan iodium yang didapat dari makanan dibutuhkan untuk pembentukan hormon thyroid, disamping itu juga diperlukan suatu molekul glikoprotein besar yang dihasilkan oleh retikulum endoplasma dan badan golgi yang terdapat pada sel-sel folikel thyroid disebut thyroglobulin, selain itu hormon thyroid sendiri terbentuk dari kombinasi iodium dengan asam amino thyrosin untuk membuat T3 dan T4.(13)

Tahapan-tahapan pembentukan hormon thyroid: (2)

Semua tahapan-tahapan sintesis hormon thyroid dilakukan oleh molekul-molekul thyroglobulin didalam koloid. Asam amino thyrosine kemudian bergabung dengan molekul-molekul thyroglobulin, setelah itu thyrosine yang mengandung thyroglobulin akan dikirim dari sel-sel folikel kedalam koloid oleh exocytosis.

Intake iodium yang dibutuhkan untuk sintesis hormon thyroid didapatkan dari makanan. Thyroid menangkap iodium dari dalam darah dan mengirimkannya kedalam koloid dengan menggunakan pompa iodium yang sangat aktif atau dengan mekanisme penjeratan iodida yang sangat bertenaga, karena energi dibutuhkan untuk membawa protein yang berada diluar membran sel-sel folikel. Hampir sebagian besar iodium didalam tubuh digerakkan berlawanan dengan derajat konsentrasinya agar dapat terperangkap didalam thyroid dengan tujuan untuk mensintesis hormon thyroid.

Didalam koloid iodium secara cepat berikatan dengan molekul thyroglobulin. Pengikatan satu iodium dengan tyrosine menghasilkan Monoiodotyrosine (MIT). Pengikatan dua iodium dengan tyrosine menghasilkan diiodotyrosine (DIT).

Proses coupling (bergandengan) muncul antara molekul tyrosine iodinisasi untuk membentuk hormon thyroid. Coupling antara dua DIT menghasilkan tetraiodothyronine (T4) keempat iodium membentuk hormon thyroid. Coupling satu MIT dan satu DIT menghasilkan triiodothyronine (T3).

Karena semua reaksi diatas timbul didalam molekul thyroglobulin semua produk/hasil tetap berada didalam thyroglobulin. Thyroid hormon tetap berada dalam bentuknya didalam koloid sampai hormon-hormon tersebut berpisah dan disekresikan. Hal ini diperkirakan bahwa persediaan hormon thyroid normalnya terdapat didalam koloid untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk beberapa bulan. (2)

Pelepasan hormon

Pelepasan hormon-hormon thyroid kedalam sirkulasi sistemik membutuhkan proses yang jauh lebih rumit/kompleks karena ada dua alasan yaitu sebelum dilepaskan T4 dan T3 tetap terikat didalam molekul thyroglobulin. Kedua, hormon-hormon tersebut disimpan pada bagian extraselular, yaitu lumen folikel.

Sebelum dapat masuk kedalam aliran darah hormon-hormon thyroid harus mengalir melalui ruang interstisial, harus ditransport secara lengkap melewati sel folikel, yaitu dengan cara sel-sel folikel merusak sendiri sebagian kecil koloid, memecah molekul thyroglobulin hingga menjadi beberapa komponen dan mengeluarkan T3 dan T4 bebas kedalam darah.

Kelenjar thyroid normalnya memproduksi sekitar 80% T4 dan 20% T3, tetapi bagaimanapun hampir semua thyroxine (T4) akan diubah menjadi  triiodothyronin (T3) didalam jaringan. Secara kualitatif fungsi kedua hormon sama, tetapi keduanya berbeda dalam kecepatan dan intesitas kerjanya. Triiodothyronin kira-kira 4x lebih kuat daripada thyroxine. (2,5)

Pengaturan sekresi hormon thyroid diatur oleh TSH (Thyroid stimulating hormon) yang dikenal dengan thyrotropin, yaitu salah satu hormon dari kelenjar hipofisis anterior. Untuk menjaga kestabilan kadar hormon thyroid dalam tubuh, maka antara hormon thyroid dan TSH mepunyai mekanisme efek umpan balik  (negative feedback mechanism), dimana bila terjadi peningkatan kadar hormon thyroid di dalam tubuh maka sekresi TSH oleh hipofisis akan menurun/dihambat.

Sekresi TSH sendiri diatur oleh TRH  (thyroid releasing hormone) yang dihasilkan oleh hypothalamus. Sehingga sekresi TRH dan TSH  secara tidak langsung mempengaruhi pengeluaran hormon thyroid.(2,5)

Setiap sel di dalam tubuh tergantung pada hormon thyroid untuk regulasi metabolismenya. Efek-efek hormon thyroid : (2,8)

1. Efek metabolisme tubuh dan kalorigenik

meningkatkan metabolisme basal tubuh. Regulator penting dalam penyediaan O2 dalam tubuh dan enegi dalam keadaan istirahat. Efek kalorigenik timbul karena mempunyai efek meningkatkan aktifitas metabolisme maka menghasilkan peningkatan produksi panas.

2. Efek terhadap pertumbuhan

mempunyai efek yang umum dan spesifik untuk pertumbuhan, terutama yaitu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak selama kehidupan janin dan beberapa tahun pasca kelahiran.

3.    Efek cardiovascular

Meningkat denyut dan kontraksi otot jantung sehingga terjadi peningkatan cardiac output.

4. Efek Respirasi

meningkatnya kecepatan metabolisme akan meningkatkan pemakaian oksigen dan pembentukan karbondioksida, sehingga meningkatkan kecepatan dan kedalaman pernapasan.

5. Efek pada saluran cerna

meningkatkan nafsu makan dan asupan makanan, juga meningkatkan kecepatan sekresi getah dan pergerakan saluran cerna. Sehingga sering menimbulkan diare. Bila kekurangan hormon thyroid menyebabkan konstipasi.

6. Efek pada sistem saraf pusat

meningkatkan kecepatan berpikir, tetapi juga sering terjadi disosiasi pikiran dan sebaliknya.

7. Efek terhadap fungsi otot

Menyebabkan otot bereaksi lebih kuat bila sedikit kelebihan hormon thyroid dan  menjadi lemah bila jumlahnya berlebihan karena kelebihan katabolisme protein. Sedangkan bila kekurangan menyebabkan otot sangat lamban dan berelaksasi setelah kontraksi.

8. Efek pada fungsi seksual

kekurangan menyebabkan hilangnya libido dan kelebihan menyebabkan impotensi pada pria. Pada wanita kekurangan hormon thyroid menimbulkan gangguan siklus menstruasi seperti menorrhagia, oligomenorrhea.

ETIOLOGI DAN PATHOGENESIS

Penyebab pasti thyroiditis Hashimoto tidak diketahui. Tetapi diduga kemungkinan adanya reaksi autoimun akibat adanya infiltrasi sel-sel limfosit ke dalam kelenjar thyroid dan ditemukannya antibodi antithyroid peroksidase (anti-TPO) didalam serum darah, yaitu pada sekitar 90 % penderita, serta ditemukannya serum antibodi thyroglobulin dengan kadar konsentrasi yang tinggi pada sekitar 20-50% penderita. (7,5)

Biasanya bila menderita Thyroiditis Hashimoto, mungkin terjadi aktifitas berlebihan dari thyroid (hyperthyroid) daripada hypothyroidism. Hal ini akibat terlalu banyak hormon thyroid yang dilepaskan kedalam darah karena adanya kerusakan pada sel-sel thyroid. Yaitu berupa thyrotropin yang disekresikan oleh kelenjar hipofisis dan dikenal sebagai TSH ( Thyroid Stimulating Hormone) meningkat dalam serum pasien sejalan dengan habisnya cadangan hormon thyroid.

Pada beberapa stadium dari destruksi terjadi pelepasan hormon thyroid yaitu T3 dan T4 secara berlebihan Tetapi secara umum keadaan hyperthyroid ini bersifat sementara dan singkat, diikuti oleh kembali normalnya fungsi thyroid. Tetapi periode dari kembali normalnya fungsi thyroid sangat singkat dan setelah itu terbentuk fibrosis pada thyroid yang mengawali terjadinya hypothyroid.

Dimana beberapa pasien akan mengalami atrofi kelenjar. Parenkim atau fungsi jaringan dari kelenjar secara progresif akan mengalami destruksi dan digantikan oleh jaringan limfosit atau fibrosis.

Mekanisme aktivasi

Mekanisme terjadinya adalah teraktivasinya sel CD4 T menarik sel cytotoxic (CD8) T seperti sel B kedalam thyroid. Kematian langsung dari sel thyroid oleh sel CD8 diyakini sebagai mekanisme utama terjadinya hypothyroidisme. Begaimanapun, autoantibodi thyroid mungkin juga memiliki aturan pathogenik sendiri. Antibodi anti-thyroid peroxidase menghalangi aktifitas dari thyroid peroxidase in vitro tetapi spertinya tidak akan memiliki efek primer secara in vivo.

Beberapa pasien memiliki antibodi cytotoxic mampu memperbaiki komplemen dan penyebab lisisnya sel-sel thyroid dan kompleks terminal komplemen telah dideteksi terdapat pada thyroid sel. Keikutsertaan relatif terhadap berbagai mekanisme destruksi thyroid secara in vivo tetap belum jelas. Reseptor antibody anti thyrotropin mungkin ikut serta dalam proses terjadinya hipothyroidisme dengan menghambat kerja dari thyrotropin.

Antibodi ini telah dilaporkan terdapat sekitar 10% penderita dengan thyroiditis autoimun goiter dan sekitar 20% pada penderita dengan thyroiditis autoimun atrofi. Seberapa sering antibodi reseptor anti-thyrotropin sebagai satu-satunya penyebab dari hypothyroidisme tidak diketahui secara pasti.

Diantara penderita dewasa yang secara tiba-tiba antibodi tersebut menghilang selama thyroxine, hanya sekitar 40% tetap euthyroid setelah terapi dihentikan, memberikan kesan bahwa pada sekitar 5-10% penderita dengan thyroiditis autoimun khronik terdapat keikutsertaan reseptor thyrotropin dalam menghalangi antibodi sehingga terjadi hypothyroidisme.  (1,8,10)

Mekanisme destruksi

Mekanisme untuk destruksi autoimun dari thyroid mungkin melibatkan imunitas selular dan imunitas humoral.(10) Proses autoimun diyakini diawali dengan aktivasi CD4 (helper). Bagaimana sel ini dapat teraktivasi tidak diketahui. Namun ada 2 hipotesis yaitu (1) infeksi virus atau bakteri yang mengandung protein mirip dengan protein thyroid mungkin menghasilkan aktivasi dari sel T spesifik thyroid. Sel-sel epitel thyroid menghadirkan protein intraselular sendiri untuk sel T helper.

Sekali saja CD4 teraktivasi maka sel CD4 T dapat menstimulasi sel B autoreaktif untuk dapat masuk kedalam thyroid dan mensekresi antibody thyroid. Tiga target utama antigen terhadap antibody thyroid adalah thyroglobulin, penyimpanan protein untuk hormon-hormon thyroid, antigen mikrosomal thyroid, yang telah diidentifikasi sebagai thyroid peroksidase, suatu limiting enzym dalam biosintesis hormon thyroid, dan reseptor thyrotropin.

Selain itu telah digambarkan pula adanya antibodi terhadap antigen thyroid lainnya dan imunoglobulin promoting/mengembangkan pertumbuhan thyroid dipisahkan dari antibodi stimulating reseptor thyrotropin meskipun tidak sepenuhnya spesifik. (1,8,10)

GAMBARAN KLINIK

Dalam onsetnya thyroiditis hashimoto biasanya tidak terlihat, dengan lambatnya perkembangan tanda-tanda dan gejala lebih dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh cepatnya onset dan beratnya stadium klinik.

Gejala-gejala yang biasanya dikeluhkan penderita yaitu: (1,6,7,9,11))

  1. Pembesaran kelenjar thyroid tanpa disertai rasa sakit yang disebut goiter, yang mengakibatkan pembengkakan dileher dan rasa penuh ditenggorokan. Biasanya tidak terlalu besar ukurannya tetapi bentuknya biasanya ireguler, konsistensinya keras dan lebih kenyal dibandingkan thyroid normal
  2. Fatigue
  3. Kenaikan berat badan
  4. Sakit kepala
  5. Konstipasi
  6. Gerakan lambat dan kehilangan energi
  7. Mudah kelelahan dan lemah
  8. Kulit kering
  9. Suara serak
  10. Intoleransi dingin
  11. Neuropathy perifer
  12. Menstruasi yang ireguler berupa menorrhagia, pada keadaan lebih lanjut dapat terjadi oligomenorrhae dan amenorrhea
  13. Kerusakan pendengaran ringan
  14. Infertilitas dan kehilangan libido
  15. Parestesia
  16. Rambut rontok
  17. Sulit untuk berkonsentrasi dan daya ingat lemah bahkan dapat sampai hilang
  18. Depresi, demensia dan gangguan psikiatrik lain
  19. Sakit persendian dan kram pada otot
  20. Sleep apnea dan daytime somnolence
  21. Galactorrhea

Pemeriksaan fisik didapatkan:

  1. Puffy face dan edema periorbital
  2. Kulit dingin, kasar, dan kering
  3. edema perifer pada tangan dan kaki, biasanya tipe nonpitting edema
  4. Thickenned dan brittle nails
  5. Kehilangan rambut yang difus di daerah kepala, bulu , kulit, alat genital dan wajah
  6. Bradikardi karena menurunnya kontraktilitas dan denyut jantung
  7. Kenaikan tekanan darah biasanya berupa hipertensi diastolik
  8. Suara serak dan bicara lambat
  9. Sindroma Carpal Tunnel
  10. Kelenjar thyroid biasanya membesar, keras, kenyal, tanpa adanya lembut, atau bruit. Ukurannya dapat normal bahkan tidak teraba sama sekali.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pada keadaan timbulnya gejala-gejala subyektif dan temuan dalam pemeriksaan fisik maka pemeriksaan serum TSH dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan TSH merupakan suatu tes yang sensitif untuk mengetahui fungsi thyroid. Biasanya ditemukan kadar TSH meningkat, sedangkan  kadar T4 total atau T4 bebas rendah. Sedangkan kadar serum total T3 dan T3 bebas tidak akan menurun hingga ada kerusakan lebih lanjut, karena terjadinya peningkatan konsentrasi serum thyrotropin menstimulasi thyroid untuk melepaskan T3.

Pada saat total T4 lebih banyak ditemukan daripada T4 bebas, T3 resin uptake dapat membantu untuk mengkoreksi kadar protein binding antara T4 total dan T3, terutama bila ada kadar abnormalitas dari TBG. Bila kedua serum TSH dan T4 kadarnya rendah hal ini memperkuat adanya keadaan hipothyroidisme, begitu pula bila kadar T3 lebih rendah dibawah kadar normal maka gejala-gejala dan tanda-tanda hypothyroidisme akan muncul. Ditemukannya autoantibodi thyroid yaitu anti –TPO dan antibodi anti-Tg memperkuat adanya penyakit thyroiditis Hashimoto. (6)

PEMERIKSAAN RADIOLOGI DAN USG

Pemeriksaan USG biasanya tidak diperlukan dalam menegakkan diagnosa thyroiditis Hashimoto, tetapi berguna untuk memperkirakan ukuran thyroid dan ekstensi retrosternal dan untuk mengevaluasi bentuk dari nodul jika ada. Alat USG digunakan untuk menentukan nodul itu kistik atau solid dan mungkin bermanfaat untuk pemeriksaan Fine-needle aspiration dari nodul berukuran kecil pada saat ada indikasi dan penderita dalam keadaan bentuk anatomi leher yang berubah. Diagnosa pasti untuk menentukan jinak dan ganasnya lesi daripada thyroid hanya dapat dikonfirmasikan dengan pemeriksaan sitologi atau histologi dari jaringan thyroid. (6)

Iodium uptake dan scan biasanya tidak diindikasikan untuk mengkonfirmasi diagnosa thyroiditis Hashimoto ( biasanya uptake iodium mungkin meningkat sementara pada pasien thyroiditis Hashimoto dengan intake iodium dari makanannya rendah karena efek dari peningkatan kadar TSH).

Pemeriksaan T4 dan T3 berguna untuk membedakan antara thyroiditis hashimoto dan penyakit Grave jika ada hipertiroidisme sekunder. Pada pasien dengan nodul yang jelas uptake iodium dan scan mungkin berguna untuk mengklasifikasi nodul tersebut nodul panas atau dingin, tetapi kadar TSH biasanya adekuat untuk mengetahui status fungsional dari thyroid. (6)

PEMERIKSAAN LAINNYA

Pemeriksaan dengan menggunakan biopsi aspirasi jarum dilakukan ketika dijumpai adanya nodul-nodul yang berkembang/membesar dengan cepat atau ketika ukuran dari thyroid meningkat dengan cepat untuk menentukan keganasan atau adanya thyroid lymphoma. (6)

Thyroiditis Hashimoto merupakan diagnosa histologi. Biasanya tampak kelenjar thyroid memperlihatkan adanya infiltrasi limfosit yang difuse dan infiltrasi sel plasma dengan bentuk folikel limfoid berasal dari hiperplasia folikular dan kerusakan hingga dasar membran dari folikel. Adanya suatu atrofi dari parenkim merupakan suatu bukti. Hubungan antara adanya autoantibodi thyroid yang dinamakan anti-TPO dan anti_Tg sangant membantu dalam menentukan diagnosa. (6)

Pemeriksaan penunjang yang tidak perlu dilakukan secara rutin dalam menegakkan diagnosa dan untuk mengevaluasi keadaan pasien yaitu:

  1. CBC count
  2. Pemeriksaan profil lipid total dan fraksi lipid
  3. Panel metabolisme basal
  4. Kreatin kinase
  5. Prolaktin
  6. Rontgent dada
  7. ECG

DIAGNOSA BANDING(1,6)

  1. Euthyroid sick syndrome
  2. Goiter
  3. Goiter, Diffuse toxic
  4. Goiter, Lithium-induced
  5. Goiter, nontoxic
  6. Goiter, Toxic nodular
  7. Hypopituitarism
  8. PGA syndrome I
  9. PGA syndrome II
  10. Thyroid Lymphoma

THERAPY

Pengobatan pilihan untuk thyroiditis Hashimoto adalah dengan penggantian hormon. Drug of choicenya ialah levothyroxine sodium, yang biasanya diberikan untuk seumur hidup. Jika tidak ada residual dari fungsi thyroid maka pemberian levothyroxine dosisnya ialah 1,5μg/kg berat badan(biasanya 100-150 μg). Pada banyak pasien, cukup diberikan dosis kecil hingga jaringan residual thyroid hancur.

Pada usia usia <60 tahun tanpa adanya bukti menderita sakit jantung pemberian levothyroxine dapat diberikan mulai dari dosis 50-100 μg. Dosis diberikan berdasarkan kadar TSH dengan tujuan pengobatan agar kadar TSH kembali normal, idealnya lebih rendah setengah dari batas kadar normal. Respon TSH terhadap pengobatan biasanya bertahap dan harus diberikan selama 2 bulan setelah pemberian terapi dimulai.

Efek klinik dari pemberian levothyroxine biasanya muncul dengan perlahan. Pasien mungkin tidak mengalami sudah terbebas dari gejala-gejala yang dirasakan sepenuhnya hingga 3 atau 6 bulan setelah dicapainya kadar TSH yang normal. Perhitungan pemberian levothyroxine replacement dosisnya dibuat dari 12.5-25 μg dan dapat dinaikkan bila kadar TSH tinggi. Dan dosis harus diturunkan bila kadar TSH telah dapat diturunkan. (1,6)

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan levothyroxine dapat dikombinasikan dengan liothyronine (triiodothyronine/T3), dimana dari hasil penelitian didapatkan bahwa penderita merasa lebih baik dengan pemberian obat kombinasi (T4/T3) dibandingkan hanya diberikan T4. bagaimanapun, keuntungan jangka panjang dari pemberian obat kombinasi ini belum jelas.

Karena tidak ada tempat hanya untuk pemberian liothyronine saja dalam jangka panjang, karena waktu paruhnya yang singkat kebutuhannya hanya 3 sampai 4 dosis perhari dan berhubungan dengan fluktuasi kadar T3. (1,6)

Sekali pemberian replacement sudah terpenuhi dan kadar TSH sudah stabil maka disarankan untuk mengukur pemberian obat selanjutnya sebagai follow up lanjutan dan diberikan secara berkala dan mungkin harus dipertahankan selama 2 atau 3 tahun, jika kadar TSH tetap bertahan selama beberapa tahun.

Terapi pembedahan dilakukan atas indikasi: (5)

  1. Goiter yang besar dan menekan dengan gejala-gejala seperti dysphagia, suara serak, stridor ekstrinsik
  2. Adanya nodul yang malignant pada pemeriksaan biopsi aspirasi jarum
  3. Adanya Lyphoma dari hasil biopsi aspirasi jarum
  4. Alasan kosmetik

PROGNOSA

Prognosisnya biasanya baik karena penyakit tetap stabil untuk jangka waktu yang lama/ tahunan,karena perkembangannya sangat lambat dengan keadaan defisiensi hormon yang dapat diobati dengan terapi replacement.(1,12)

Baca Juga : Makalah Tumor Wilm

DAFTAR PUSTAKA

1.      “Endocrinology and Metabolism: Disease of Thyroid”,  Harrison’s Principles of Internal Medicine ( 15th ed. New York, Mcgraw Hill,2000)

2.      “Physiology of thyroid”, Sherwood’s Fundamental of Physiology, A Human Perspektif (2nd ed. West Publishing company,1995),500-504.

3.      “Anatomi Glandulae Thyroidea”, Richard S. Snell’s Anatomi Klinik untuk Mahasiswa , alih bahasa dr. Jan Tambayong ( Bagian 3 ed.2 Penerbit Buku Kedokteran EGC,1997),32-37.

4.      “Anatomi Glandulae Thyroidea”, Keith L. Moore Anatomi Klinis Dasar, alih bahasa dr. Hendra Laksmana (1st ed. Hipokrates,2002),430-431.

5.      “ Fisiologi Thyroid”, Guyton & Hall Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, alih bahasa dr. Irawati Setiawan, dkk ( cetakan I, Penerbit buku Kedokteran EGC,1997),1187-1199.

6.      www.emedicine/Hashimoto Thyroiditis.com

7.      www.google/About Hashimoto Disease.com

8.      www. nejm/Chronic Autoimmune Thyroiditis.com

9.      www.google/Hashimoto’s Syndrome.com

10.  www.nejm/Thyroiditis.com

11.  www. medicalencyclopedia/Chronic Thyroiditis.com

12.  www.endocrineweb/How Your Thyroid Works.com

13.  www.thyroid/Hashimoto’s Thyroiditis.ca

14.  www.thyroidfoundation/Thyroiditis.com

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!