Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Pengobatan Gagal Jantung Akut dan Kronik

gagal jantung akut dan gagal jantung kronik
Perbedaan Jantung Normal dan Gagal Jantung

Pengertian

Gagal jantung di sebut juga payah jantung atau Decompensatio Cordis. Gagal jantung akut dan gagal jantung kronik merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penurunan kualitas hidup, tingginya rehospitalisasi karena kekambuhan yang tinggi dan peningkatan angkan kematian.

Angka Morbiditas Penyakit: prevalensi kasus gagal jantung di komunitas meningkat seiring dengan meningkatnya usia: 0,7 % (40-45 tahun), 1,3 % (55-64 tahun), dan 8,4 % (75 tahun ke atas). Lebih dari 40% pasien kasus gagal jantung memiliki ejeksi fraksi lebih dari 50%. Pada usia 40 tahun, risiko terjadinya gagal jantung sekitar 21% untuk lelaki dan 20.3 % pada perempuan.

Keluhan

  1. Sesak pada saat beraktifitas (dyspneu d’effort)
  2. Gangguan napas pada perubahan posisi (ortopneu)
  3. Sesak napas malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)

Keluhan tambahan: lemas, mual, muntah dan gangguan mental pada orangtua

Faktor Risiko

  1. Hipertensi
  2. Dislipidemia
  3. Obesitas
  4. Merokok
  5. Diabetes melitus
  6. Riwayat gangguan jantung sebelumnya
  7. Riwayat infark miokard

Pemeriksaan Fisik:

  1. Peningkatan tekanan vena jugular
  2. Frekuensi pernapasan meningkat
  3. Frekuensi nadi dan regularitasnya
  4. Tekanan darah
  5. Kardiomegali
  6. Gangguan bunyi jantung (gallop)
  7. Ronkhi pada pemeriksaan paru
  8. Hepatomegali
  9. Asites
  10. Edema perifer

Pemeriksaan penunjang

  1. Rontgen thoraks (kardiomegali, gambaran edema paru/alveolar edema/butterfly appearance)
  2. EKG (hipertrofi ventrikel kiri, atrial fibrilasi, perubahan gelombang T, dan gambaran abnormal lainnya.
  3. Darah perifer lengkap

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Framingham: minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.

Kriteria Mayor:

  1. Sesak napas tiba-tiba pada malam hari (paroxysmal nocturnal dyspneu)
  2. Distensi vena-vena leher
  3. Peningkatan tekanan vena jugularis
  4. Ronkhi
  5. Terdapat kardiomegali
  6. Edema paru akut
  7. Gallop (S3)
  8. Refluks hepatojugular positifKriteria

Kriteria Minor:

  1. Edema ekstremitas
  2. Batuk malam
  3. dyspneu d’effort (sesak ketika beraktifitas)
  4. Hepatomegali
  5. Efusi pleura
  6. penurunan kapasitas vital paru sepertiga dari normal
  7. takikardi >120 kali per menit

Diagnosis Banding

  1. Penyakit paru: obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, infeksi paru berat (ARDS), emboli paru
  2. Penyakit Ginjal: Gagal ginjal kronik, sindrom nefrotik
  3. Penyakit Hati: sirosis hepatik

Komplikasi

  1. Syok Kardiogenik
  2. Gangguan keseimbangan elektrolit

Pengobatan Gagal Jantung

a. Modifikasi gaya hidup:

  1. Pembatasan asupan cairan maksimal 1,5 liter (ringan), maksimal 1 liter (berat)
  2. Pembatasan asupan garam maksimal 2 gram/hari (ringan), 1 maksimal gram (berat)
  3. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol

b. Aktivitas fisik:

  1.  Pada kondisi akut berat: tirah baring
  2. Pada kondisi sedang atau ringan: batasi beban kerja sampai 70% sd 80% dari denyut nadi maksimal (220/ umur)

c. Penatalaksanaan farmakologi:

Pada pengobatan gagal jantung akut:

  1. Terapi oksigen 2-4 ltr/mnt
  2. Pemasangan iv line untuk akses dilanjutkan dengan pemberian furosemid injeksi 20 s/d 40 mg bolus.
    Cari pemicu gagal jantung akut.
  3. Segera rujuk.

Pada pengobatan gagal jantung kronik:

  1. Diuretik: diutamakan Lup diuretik (furosemid) bila perlu dapat dikombinasikan Thiazid (HCT), bila dalam 24 jam tidak ada respon rujuk ke Layanan Sekunder.
  2. ACE Inhibitor (ACE-I) atau Angiotensine II receptor blocker (ARB) mulai dari dosis terkecil dan titrasi dosis sampai tercapai dosis yang efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan sudah mencapai dosis maksimal dan target tidak tercapai, dirujuk.
  3. Beta Blocker (BB): mulai dari dosis terkecil dan titrasi dosis sampai tercapai dosis yang efektif dalam beberapa minggu. Bila pengobatan sudah mencapai dosis maksimal dan target tidak tercapai, dirujuk.
  4. Digoxin diberikan bila ditemukan fibrilasi atrial untuk menjaga denyut nadi tidak terlalu cepat.

Konseling dan Edukasi

  • Edukasi tentang penyebab dan faktor risiko penyakit gagal jantung kronik. Penyebab gagal jantung kronik yang paling sering adalah tidak terkontrolnya tekanan darah, kadar lemak atau kadar gula darah.
  • Pasien dan keluarga perlu diberitahu tanda-tanda kegawatan kardiovaskular dan pentingnya untuk kontrol kembali setelah pengobatan gagal jantung di rumah sakit.
  • Patuh dalam pengobatan yang telah direncanakan.
  • Menjaga lingkungan sekitar kondusif untuk pasien beraktivitas dan berinteraksi.
  • Melakukan konferensi keluarga untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat penatalaksanaan pasien, serta menyepakati bersama peran keluarga pada masalah kesehatan pasien.
One Comment

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!