Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Otitis Media Akut : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Pengobatan Otitis Media Akut
Otitis Media Akut

Pengertian Otitis Media Akut

Otitis media akut atau disingkat OMA adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid yang terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. (ICD X OMA : H66.0)

Prevalensi kejadian OMA banyak diderita oleh anak-anak maupun bayi dibandingkan pada orang dewasa tua maupun dewasa muda. Pada anak-anak makin sering menderita infeksi saluran napas atas, maka makin besar pula kemungkinan terjadinya OMA disamping oleh karena sistem imunitas anak yang belum berkembang secara sempurna. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachius pendek, lebar, dan letak agak horizontal.

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan yang bergantung pada stadium OMA yang terjadi. Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan demam serta ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Anak juga gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit waktu tidur, bila demam tinggi sering diikuti diare dan kejang-kejang.

Kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Pada stadium supurasi pasien tampak sangat sakit, dan demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun, dan anak tertidur tenang. Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran dan rasa penuh dalam telinga.

Faktor Risiko

a. Bayi dan anak

b. Infeksi saluran napas berulang

c. Bayi yang tidak mendapatkan ASI Eksklusif

Pemeriksaan Fisik

a. Dapat ditemukan demam

b. Pemeriksaan dengan otoskopi untuk melihat membran timpani:

  1. Pada stadium oklusi tuba Eustachius terdapat gambaran retraksi membran timpani, warna membran timpani suram dengan reflex cahaya tidak terlihat.
  2. Pada stadium hiperemis membran timpani tampak hiperemis serta edema.
  3. Pada stadium supurasi membran timpani menonjol ke arah luar (bulging) berwarna kekuningan.
  4. Pada stadium perforasi terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.
  5. 5. Pada stadium resolusi bila membran timpani tetap utuh, maka perlahan-lahan akan normal kembali.Bila telah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan mengering.

c. Pada pemeriksaan penala yang dilakukan pada anak yang lebih besar dapat ditemukan tuli konduktif

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Otitis Media Akut:

  1. Stadium oklusi tuba Eustachius Adanya gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena adanya absorpsi udara. Membran timpani terlihat suram dengan refleks cahaya menghilang. Efusi mungkin telah terjadi, tapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sulit dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
  2. Stadium Hiperemis Tampak pembuluh darah melebar di membran timpani sehingga membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar dilihat.
  3. Stadium Supurasi Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani yang menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah telinga luar. Pasien tampak sangat sakit, dan demam, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila tidak dilakukan insisi (miringotomi) pada stadium ini, kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan keluar nanah ke liang telinga luar. Dan bila ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) kadang tidak menutup kembali terutama pada anak usia lebih dari 12 tahun atau dewasa.
  4. Stadium Perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar.

e. Stadium Resolusi

Diagnosis Banding

  1. Otitis media serosa akut
  2. Otitis eksterna

Komplikasi

  1. Otitis Media Supuratif Kronik
  2. Abses sub-periosteal
  3. Mastoiditis akut

Penatalaksanaan dan Pengobatan Otitis Media Akut

a. Asupan gizi yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh

b. Pemberian farmakoterapi dengani:

1. Topikal

  • Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius. Obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% (atau oksimetazolin 0,025%) diberikan dalam larutan fisiologik untuk anak kurang dari 12 tahun dan HCl efedrin 1% (atau oksimetazolin 0,05%) dalam larutan fisiologik untuk anak yang berumur lebih dari 12 tahun atau dewasa.
  • Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari, dilanjutkan antibiotik adekuat yang tidak ototoksik seperti ofloxacin tetes telinga sampai 3 minggu.

2. Oral sistemik

  • Dapat diberikan antihistamin bila ada tanda-tanda alergi.
  • Antipiretik seperti paracetamol sesuai dosis anak.
  • Antibiotik yang diberikan pada stadium oklusi dan hiperemis ialah penisilin atau eritromisin, selama 10-14 hari:
  1. Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
  2. Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau
  3. Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari
  4. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin.
  • Pada stadium supurasi dilakukan miringotomi (kasus rujukan) dan pemberian antibiotik. Antibiotik yang diberikan:
  1. Amoxyciline: Dewasa 3×500 mg/hari. Pada bayi/anak 50mg/kgBB/hari; atau
  2. Erythromycine: Dewasa/ anak sama dengan dosis amoxyciline;atau
  3. Cotrimoxazole: (kombinasi trimethroprim 80 mg dan sulfamethoxazole 400 mg tablet) untuk dewasa 2×2 tablet, anak (trimethroprim 40 mg dan sulfamethoxazole 200 mg) suspensi 2×5 ml.
  4. Jika kuman sudah resisten (infeksi berulang): kombinasi amoxyciline dan asam klavulanat, dewasa 3×625 mg/hari. Pada bayi/anak, dosis disesuaikan dengan BB dan usia.

c. Miringotomi (kasus rujukan) Indikasi miringotomi pada anak dengan OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Kultur bakteri pada kasus OMA berulang dan dilakukan di layanan sekunder.

Rencana Tindak Lanjut

Dilakukan pemeriksaan membran tympani selama 2-4 minggu sampai terjadi resolusi membran tymphani (menutup kembali) jika terjadi perforasi.

Konseling dan Edukasi

  1. Memberitahu keluarga bahwa pengobatan harus adekuat agar membran timpani dapat kembali normal.
  2. Memberitahu keluarga untuk mencegah infeksi saluran napas atas (ISPA) pada bayi dan anak-anak, menangani ISPA denganpengobatan adekuat.
  3. Memberitahu keluarga untuk menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan sampai dengan 2 tahun.
  4. Menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok dan lain-lain.

Kriteria Rujukan

  1. Jika indikasi miringotomi.
  2. Bila membran tymphani tidak menutup kembali setelah 3 bulan.

Sarana Prasarana

  1. Lampu kepala
  2. Spekulum telinga
  3. Aplikator kapas
  4. Otoskop

Prognosis

Prognosis quo ad fungsionam dan sanationam adalah dubia ad bonam jika pengobatan adekuat. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.

Kode ICD X

Kode ICD 10 Otitis Media Akut adalah H66.0

Tags:

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!