Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Operasi LASIK Penghilang Minus Mata (Miopia)

Haloooo semuanya !! Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai yang saya lakukan pada kedua saya beberapa waktu yang lalu. Beberapa orang yang mengenal saya, pasti mengetahui bahwa sebelum menjalani operasi ini, saya adalah orang yang sangat bergantung dengan dalam melakukan aktivitas. Tentunya, kacamata yang bisa dikatakan berlensa tebal.

Saya dengan Kacamata Tebal (Miopia)
Saya dengan Kacamata Tebal

Flashback

Sebelum saya bercerita mengenai Operasi LASIK yang saya jalani, saya merasa perlu berbagi tentang kondisi mata saya sebelum di operasi dan latar belakang melakukan operasi LASIK ini. Baiklah, saya akan mulai bercerita…

Saya adalah seorang yang dilahirkan di keluarga berkacamata. Bisa dikatakan hampir semua anggota keluarga besar saya berkacamata. Mulai dari kedua nenek, kedua kakek, kedua orangtua, om dan tante saya pun berkacamata.

Saya mulai berkacamata tepatnya saat duduk di kelas 5 SD. Saat itu, posisi duduk saya di kelas sudah berada di barisan paling depan, namun saya masih merasa agak kesulitan untuk membaca tulisan di papan tulis. Orangtua saya kemudian membawa saya ke sebuah optik dan ternyata mata kanan saya minus 1 dan mata kiri saya minus 1,5. Okay fine, sejak saat itu saya berkacamata.

Kami sekeluarga memiliki hobi membaca. Hobi yang bagus sesungguhnya, namun menjadi kurang baik ketika saya tidak menerapkan bagaimana cara membaca yang baik. Saya sering membaca dalam posisi tidur, menonton tv dengan jarak sangat dekat, membaca meski dalam pencahayaan yang kurang (remang-remang), sering mengucek mata sembarangan. Saya juga jarang kontrol (sebaiknya periksa mata minimal 6 bulan sekali). Semua kebiasaan buruk itu membuat minus mata saya terus bertambah.

Saat masuk tahun 2010, minus mata kanan saya 6 dan minus mata kiri saya 6,5 disertai silinder (astigmatisme) 2 untuk kedua mata. Singkat cerita, setelah menikah, tahun 2017 saya mendapati minus mata kanan kiri saya 10 dan silinder 4. Ya, saya mengalami progresif. Dokter spesialis menganjurkan saya untuk melakukan operasi LASIK.

Apa itu Operasi LASIK ?

LASIK (Laser – Assisted in situ Keratomileusis) adalah suatu prosedur operasi pada mata untuk memperbaiki kelainan refraksi mata yaitu minus (miopia), plus (), dan silinder (astigmatisme). Ada beberapa tahapan yang dilakukan pada mata ketika menjalani operasi ini.

Tahapan Operasi LASIK (Laser-Assisted in situ Keratomileusis)
Tahapan Operasi LASIK (Laser-Assisted in situ Keratomileusis)

Pertama, setelah dilakukan pembiusan lokal pada mata, dokter spesialis mata akan membuat flap pada dengan microkeratome (blade). Dengan kata lain, kornea kita seperti diiris. Flap tersebut kemudian dibuka. Kedua, setelah flap terbuka, dilakukan penyinaran pada kornea dengan menggunakan laser. Tujuannya adalah membentuk ulang kornea dan menghilangkan kelainan refraksi. Ketiga, menutup kembali flap. Flap pada kornea tidak perlu dijahit karena akan melekat dengan sendirinya dalam waktu 3 menit.

Jenis-jenis operasi LASIK ada banyak, seperti 7D-ZLASIK, Z2-Lasik, Lasik Xtra, No Touch LASIK, IntraLASIK, dll. Anda harus berkonsultasi dengan dokter spesialis mata dan melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk menentukan jenis operasi mana yang tepat untuk Anda.

Syarat Operasi LASIK

Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi sebelum melakukan operasi LASIK,
antara lain :

  1. Berusia 18 tahun ke atas
  2. Tidak sedang hamil atau menyusui
  3. Tidak menggunakan soft contact lense minimal 14 hari atau hard contact lense 30 hari sebelum operasi dilaksanakan
  4. Kedua mata dalam keadaan sehat

Operasi LASIK yang Saya Jalani

Saya melakukan operasi LASIK di Jakarta Eye Center (JEC), Kedoya, Jakarta. Awalnya, saya berkonsultasi dengan dr. Ferdiriva Hamzah, Sp. M. Kemudian, beliau melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap mata saya. Seingat saya ada 3 macam pemeriksaan, yaitu pemeriksaan visus mata, pemeriksaan kornea, dan pemeriksaan retina. Hasil dari pemeriksaan tersebut menyatakan bahwa kornea saya lemah atau tipis, sehingga beliau menyarankan saya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mata yang ahli pada bagian kornea yaitu dr. Sharita R. Siregar, Sp. M. Setelah berkonsultasi dengan dr. Sharita R. Siregar, Sp. M, beliau menyatakan bahwa operasi LASIK yang tepat untuk kondisi kornea saya adalah LASIKXtra.

Operasi LASIKXtra pada Miopia dan Astigmatisme
Operasi LASIKXtra pada Miopia dan

LASIKXtra dilakukan kepada pasien dengan kondisi kornea lemah atau tipis. Di awal saya sudah bercerita tentang 3 tahapan operasi LASIK. Pada LASIKXtra ini, ada tahapan keempat, yaitu penambahan cairan Riboflavin pada kedua mata selama 30 detik dilanjutkan dengan penyinaran sinar UVA. Tujuan tahapan keempat ini adalah untuk memperkuat kornea atau mengunci tindakan LASIK agar tidak mudah mengalami kelainan refraksi kembali. Pasien dengan kondisi kornea lemah atau tipis berisiko mengalami kelainan refraksi kembali.

Setelah selesai operasi, saya diminta untuk beristirahat di ruang pasca operasi. Saat itu yang saya rasakan adalah rasa berat pada mata (terasa mengantuk dan sulit membuka mata), mata berair, dan sedikit pusing berputar. Namun, gejala-gejala tersebut berangsur membaik setelah 2 jam pasca operasi.

Pasca Operasi LASIKXtra
Pasca Operasi LASIKXtra

Biaya Tindakan LASIK

Biaya tindakan LASIK tergantung dari jenis prosedur LASIK yang dijalani. Di Jakarta Eye Center (JEC), prosedur LASIK biasa, biaya untuk sepasang mata adalah 27 juta rupiah. Sedangkan, untuk pemilik kornea lemah atau tipis yang menjalani LASIKXtra, biaya untuk sepasang mata adalah 40 juta rupiah.

Perawatan Mata Pasca Operasi

Setelah menjalani operasi LASIK, saya diperbolehkan langsung pulang ke Lampung dan dianjurkan untuk kontrol keesokan hari di dokter spesialis mata terdekat. Saya dibekali beberapa cara untuk merawat mata paska operasi LASIK.

Pertama, dilarang menyentuh mata. Saya diminta untuk tidak menyentuh mata dengan apapun, apalagi menggaruk meskipun terasa gatal atau mengganjal pada mata. Hanya obat tetes mata yang boleh “menyentuh” mata saya selama kurang lebih 2 minggu. Saya dibekali 3 macam obat tetes mata yaitu Cendo LFX, Cendo Tobroson, dan Cendo Eyefresh.

Kedua, jangan mengemudi. Lamanya larangan mengemudi ini tegantung dari masing-masing individu karena sensitivitas mata setiap orang berbeda. Saya pribadi mengalami silau paska operasi lebih kurang 2 minggu.

Ketiga, berhati-hati saat keramas dan cuci muka. Intinya, tidak ada yang boleh masuk ke dalam mata selama kurang lebih 2 minggu selain obat tetes mata. Jadi ketika keramas atau cuci muka, pastikan mata Anda tidak kemasukan air apalagi sabun/shampoo.

Keempat, hindari make-up. Make-up di pada wajah terutama area mata dapat meningkatkan resiko iritasi bahkan infeksi. Jadi, sebaiknya tunda dulu untuk bermake-up kurang lebih 2 minggu.

Setelah menjalani operasi pada Desember 2017 lalu, puji Tuhan, sampai hari ini penglihatan saya normal tanpa kacamata. Oke baiklah, itu tadi sedikit cerita mengenai pengalaman pribadi saya melakukan operasi LASIK. I’ll see you on my next post. Semoga bermanfaat.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!