Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Mudah Lupa? Waspada Demensia!! : Gejala dan Pengobatan

Ilustrasi Demensia
Ilustrasi Demensia

Pengertian

Demensia merupakan sindrom akibat penyakit otak yang bersifat kronik progresif, ditandai dengan kemunduran fungsi kognitif multiple, termasuk daya ingat (memori), daya pikir, daya tangkap (komprehensi), kemampuan belajar, orientasi, kalkulasi, visuospasial, bahasa dan daya nilai. (Kode ICD 10 demesia : F03.90)

Gangguan kognitif biasanya diikuti dengan deteriorasi dalam kontrol emosi, hubungan sosial dan motivasi. Pada umumnya terjadi pada usia lanjut, ditemukan pada penyakit Alzheimer, penyakit serebrovaskular, dan kondisi lain yang secara primer dan sekunder mempengaruhi otak.

Keluhan

Keluhan utama demensia adalah gangguan daya ingat, mudah lupa terhadap kejadian yang baru dialami, dan kesulitan mempelajari informasi baru. Diawali dengan sering lupa terhadap kegiatan rutin, lupa terhadap benda-benda kecil, pada akhirnya lupa mengingat nama sendiri atau keluarga.

Faktor Risiko

  1. Usia > 60 tahun (usia lanjut).
  2. Riwayat keluarga.
  3. Adanya penyakit Alzheimer, serebrovaskular (hipertensi, penyakit ), atau diabetes mellitus.

Pemeriksaan Fisik

  1. Kesadaran sensorium baik.
  2. Penurunan daya ingat yang bersifat kronik dan progresif. Gangguan fungsi otak terutama berupa gangguan fungsi memori dan bahasa, seperti afasia, aphrasia, serta adanya kemunduran fungsi kognitif eksekutif.
  3. Dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan adanya gangguan neurologik atau penyakit sistemik

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium dilakukan jika ada kecurigaan adanya kondisi medis yang menimbulkan dan memperberat gejala. Dapat dilakukan Mini Mental State Examination (MMSE).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis Klinis Pemeriksaan dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Kriteria Diagnosis

  1. Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir yang sampai mengganggu kegiatan harian seseorang
  2. Tidak ada gangguan kesadaran
  3. Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling sedikit enam bulan

Klasifikasi

  1. Pada Penyakit Alzheimer
  2. Vaskular
  3. Pada penyakit Pick (Sapi Gila)
  4. Pada penyakit Huntington
  5. Pada penyakit Parkinson
  6. Pada penyakit HIV/AIDS
  7. Demensia tipe Alzheimer prevalensinya paling besar (50-60%),

Diagnosis Banding

  1. Delirium
  2. Depresi
  3. Gangguan Buatan
  4. Skizofrenia

Demensia

a. Non farmakologi

  1. Modifikasi faktor resiko yaitu kontrol penyakit fisik, lakukan aktifitas fisik sederhana seperti senam otak, stimulasi kognitif dengan permintaan, kuis, mengisi teka-teki silang, bermain catur.
  2. Modifikasi lingkungan sekitar agar lebih nyaman dan aman bagi pasien.
  3. Rencanakan aktivitas hidup sehari-hari (mandi, makan, dan lain-lain) untuk mengoptimalkan aktivitas independen, meningkatkan fungsi, membantu adaptasi dan mengembangkan keterampilan, serta meminimalisasi kebutuhan akan bantuan.
  4. Ajarkan kepada keluarga agar dapat membantu mengenal barang milik pribadinya, mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender harian, dapat menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat, mengenal lingkungan sekitar, beri pujian jika dapat menjawab dengan benar, bicara dengan kalimat sederhana dan jelas (satu atau dua tahap saja), bila perlu gunakan isyarat atau sentuhan lembut.

b. Farmakologi Demensia

  1. Jangan berikan inhibitor asetilkolinesterase (seperti: donepzil, galantamine dan rivastigmine) atau memantine secara rutin untuk semua kasus demensia. Pertimbangkan pemberiannya hanya pada kondisi yang memungkinkan diagnosis spesifik penyakit Alzheimer ditegakkan dan tersedia dukungan serta supervisi adekuat oleh spesialis serta pemantauan efek samping oleh pelaku rawat.
  2. Bila pasien berperilaku agresif, dapat diberikan antipsikotik dosis rendah, seperti: Haloperidol 0,5 – 1 mg/hari.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!