Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Mioma Uteri

Pengobatan Mioma Uteri
Mioma Uteri

Pengertian

Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, leiomioma, ataupun fibroid. Mioma uteri merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menopangnya. Angka kejadian terutama pada wanita yang berumur 35-45 tahun yaitu sekitar 20%. Insiden mioma dengan kehamilan 0,3-2,5/100 kelahiran hidup. Rice dkk (1989) mengamati lebih dari 6700 kehamilan dan menemukan 1,4% disertai dengan mioma. Kartz dkk (1989) menemukan 1 dari 500 kehamilan disertai dengan mioma.1-3

Etiologi

Etiologi mioma uteri belum diketahui dengan pasti, namun diduga ada dua teori yaitu:

  1. Teori stimulasi estrogen
    Karena: – Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil
  • Tidak pernah dijumpai sebelum menarche
  • Biasanya atrofi setelah menopause
  • Sering dijumpai bersama hiperplasia endometrium
  1. Teori cell nest atau genitoblast
    Terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada cell nest yang selanjutnya dirangsang terus menerus oleh estrogen2

Klasifikasi

Pembagian mioma uteri berdasarkan lokasinya sebagai berikut:
1. Subserosa mioma uteri (Dapat bertangkai dan menjadi parasitik mioma uteri)
2. Intramural mioma uteri (Tunggal-multipel)
3. Submukosa mioma uteri (Tunggal-multipel)  Dapat bertangkai dan terlahir
4. Servikal mioma uteri3,4

Gejala

Gejala mioma uteri tergantung dari:
1. Tempat dan besarnya
2. Bentuk gejala klinis:
– Fungsi reproduksi:
a. Infertilitas
b. Menyebabkan abortus dan prematuritas
c. Kelainan letak janin
d. Gangguan inpartu
e. Pascapartum atonia uteri dan perdarahan
– Akibat keseimbangan hormonal estrogen dan progesteron:
a. Gangguan pola menstruasi
b. Irreguler menstrual-spooting
c. Metroragia, menometroragia
d. Dismenore
– Akibat pembesaran:
a. Discomport
b. Pendesakan yang menimbulkan gangguan fungsi organ pelvis
c. Gangguan sirkulasi yang menimbulkan edema tungkai3,5,6

Beberapa perubahan sekunder yang terjadi pada mioma uteri:

  1. Atrofi : dapat sesudah menopause atau sesudah kehamilan
  2. Degenerasi hialin: pada penderita usia tua; struktur asli hilang, menjadi homogen dan lebih putih
  3. Degenerasi kistik: tumor melembek; jaringan yang mengalami hialinisasi menjadi cair
  4. Degenerasi membatu (terjadi pada degenerasi kistik) : Ca fosfat mengendap dalam ruangan kistik  konsistensi menjadi keras
  5. Degenerasi merah (sering ditemukan pada kehamilan) : karena pengaruh estrogen, mioma cepat membesar  vaskularisasi tidak dapat mengikuti kecepatan pertumbuhan  trombosis, infark, perdarahan  nyeri, mual, suhu meningkat2

Pengaruh mioma terhadap kehamilan antara lain:2,7

  1. Mungkin tidak berpengaruh apa-apa
  2. Abortus atau partus prematurus
  3. Mioma dapat menghalangi persalinan bila lokasinya di bagian bawah
  4. Kelainan letak janin
  5. Kelainan implantasi plasenta
  6. Dapat terjadi inertia uteri dan atonia uteri
  7. Dapat terjadi adhesi plasenta

Pengaruh kehamilan terhadap mioma antara lain:

  1. Estrogen menyebabkan otot-otot polos mengalami edema sehingga mioma membesar
  2. Terjadi degenerasi merah
  3. Dapat terjadi putaran tangkai2,7

Mioma Uteri

1. Observasi

Tidak ada ukuran standar mioma uteri asimptomatik yang merupakan indikasi absolut untuk terapi. Pasien-pasien mioma uteri asimptomatik yang tidak disertai pertumbuhan massa mioma ataupun keganasan, usia pasien, status fertilitas, dan menghindari pembedahan, hal-hal ini haruslah menjadi faktor dalam perencanaan terapi. Pemeriksaan fisik dan USG seharusnya dilakukan saat awal dan diulangi 6-8 minggu untuk mengetahui ukuran dan pola pertumbuhan. Jika pertumbuhan stabil, pasien dapat dievaluasi dengan interval 3-4 bulan.

2. Terapi hormonal (rangsangan estrogen menurun dan terjadi pengecilan mioma)

Pemberian obat-obatan dimaksudkan untuk terapi atau untuk mengecilkan mioma sehingga lebih mudah dilakukan miomektomi dan memperkecil perdarahan.

3. Pembedahan

1. Miomektomi

Miomektomi adalah suatu tindakan operatif pengangkatan jaringan mioma dari uterus. Roman dan Tabsh pada tahun 1991-2001 melakukan penelitian terhadap 111 wanita yang dilakukan seksiomiomektomi dibandingkan dengan 257 wanita yang hanya dilakukan SC, hasilnya tidak ada perbedaan resiko terjadi perdarahan, demam setelah operasi, namun perawatan di rumah sakitnya yang lebih lama. Burton dkk melakukan penelitian yang sama hasilnya, dari 14 kasus hanya 1 yang mengalami perdarahan intraoperatif, setelah operasi tidak ada komplikasi. Dari beberapa penelitian, pertimbangan keberhasilan untuk melakukan miomektomi adalah ukuran, letak, dan posisi mioma.11-13

Miomektomi dilakukan berdasarkan gejala klinik. Adapun indikasi miomektomi secara umum, diantaranya:

  1. Usia reproduksi aktif
  2. Ingin mempertahankan genitalia interna
  3. Masih mungkin fertil, dibuktikan dengan pemeriksaan suami dan istri
  4. Penghalang fertilitas hanya mioma uteri

2. Histerektomi

Pengangkatan uterus merupakan pilihan terapi saat pembedahan diindikasikan untuk mioma uteri dan paritas yang cukup. Histerektomi juga dipertimbangkan apabila terdapat pembesaran tumor yang mengarah keganasan.

Menurut Stozall, indikasi histerektomi pada penderita mioma uteri adalah:

  1. Penderita tidak memerlukan fertilitas
  2. Untuk menghilangkan gejala perdarahan uterus, nyeri pelvis, atau gejala
    penekanan pada organ pelvis lain
  3. Pertumbuhan uterus yang cepat, penekanan pada uretra atau pertumbuhan uterus
    setelah menopause
  4. Ukuran uterus lebih dari 12 minggu3
  5. Myolisis

Koagulasi laparoskopi mioma, atau myolisis, dilakukan dengan suatu neodymium: yttrium-aluminium-garnet laser melalui degenerasi protein dan destruksi vaskularisasi. Koagulasi bipolar dan cryomyolysis juga telah digunakan, tetapi pada follow up tidak bisa mengevaluasi keamanan dan fertilitas.

4. Uterine artery embolization (UAE)

Uterine artery embolization (UAE) digunakan untuk mengatasi komplikasi perdarahan obstetri. Baru-baru ini, UAE menjadi pengobatan alternatif mioma uteri. UAE menyebabkan terjadinya oklusi arteri uterina sehingga mengurangi aliran darah ke uterus.8-10

Pemilihan Pengobatan

Penatalaksanaan mioma uteri harus mempertimbangkan berbagai faktor antara lain usia, paritas, gejala, dan keinginan penderita untuk mempunyai lagi. Pilihan pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita mioma antara lain: pemberian hormon, miomektomi, histerektomi, myolisis, atau embolisasi arteri uterina. Histerektomi dipertimbangkan pada usia tua, jumlah anak cukup atau penderita tidak menginginkan anak lagi, pembesaran uterus yang cepat, tindakan miomektomi tidak memungkinkan karena prosedurnya sulit, memakan waktu yang lama, kemungkinan kehilangan darah yang banyak, dan kemungkinan komplikasi post operasi yang meningkat.9,11,12

Mioma dalam kehamilan tidak diambil tindakan apa-apa kecuali terjadi degenerasi merah dan tanda-tanda peritonitis. Dalam persalinan, lakukan persalinan seperti biasa kecuali mioma menghalangi jalan lahir lakukan seksio sesarea. Pada seksio sesarea tidak dilakukan miomektomi karena bahaya akan terjadi perdarahan kecuali mioma subserous dengan tangkai yang panjang.3,4

Diagnosis

Diagnosis mioma uteri pada kasus ini didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan obstetri dan pemeriksaan penunjang yaitu dengan USG. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang dengan keluhan hamil dengan anak lintang, kemudian dilakukan pemeriksaan obtetri, didapatkan bahwa fundus uteri sesuai kehamilan aterm, letak janin oblik, portio sulit dinilai, serta teraba massa mioma diservik saat dilakukan pemeriksaan dalam. Selanjutnya pemeriksaan dilanjutkan dengan USG dan didapatkan hasilnya yaitu letak janin oblik dengan massa mioma uterus paraservikal dan plasenta previa totalis. Dari hasil pemeriksaan tersebut, maka pasien ini didiagnosis dengan G3P2A0 hamil aterm dengan mioma uteri paraservikal + plasenta previa totalis belum inpartu janin tunggal hidup letak oblik.

Penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat, yaitu dilakukan terminasi perabdominam. Dengan pertimbangan yaitu terdapatnya mioma paraservikal dan plasenta previa totalis yang menghalangi jalan lahir pasien. Namun yang perlu diperhatikan yaitu kemungkinan terjadinya gangguan kontraksi rahim setelah kelahiran bayi.

V. RUJUKAN

  1. Manuaba IBG, Chandranita IA, Fajar IBG. Pengantar kuliah obstetri. Edisi 1. Jakarta: EGC; 2007.
  2. James DK, Steer PJ, Weiner CP, Gonik B. Bleeding in late pregnancy. In: Konje FC, Taylor DF,
    editors. High risk pregnancy. 1st ed. Philadelphia: Elsevier; 2006. p.1266-72.
    3.Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi 9. Jakarta: EGC; 2008.
  3. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Perdarahan antepartum. In: Sumapraja S. Ilmu
    kebidanan. Edisi 3. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo; 1999.p.301-27.
  4. Baker PN, Kingdom JCP. Maternal complications. In: Gillham J, Hayman R, editors. Pre-eclampsia
    current perspectives on management. 1st ed. London: The Parthenon Publishing Group; 2004.p.145-54.
  5. Barron WM, Lindheimer MD. Hypertension. In: Barron WM, editor. Medical disorders during
    pregnancy. 3rd ed. New York: Mosby; 2000.p.1-29.
Tags:
2 Comments

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!