Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Malabsorbsi Makanan : Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Pengobatan Malabsorbsi Makanan
Ilustrasi Malabsorbsi Makanan yang mengandung Fruktosa

Pengertian

Malabsorbsi makanan adalah suatu keadaan terdapatnya gangguan pada proses absorbsi dan digesti secara normal pada satu atau lebih zat gizi. Pada umumnya pasien datang dengan diare sehingga kadang kala sulit membedakan apakah diare disebabkan oleh malabsorbsi atau sebab lain. Selain itu kadang kala penyebab dari diare tersebut tumpang tindih antara satu sebab dengan sebab lain termasuk yang disebabkan oleh malabsorbsi.

Berbagai hal dan keadaan dapat menyebabkan malabsorbsi dan maldigesti pada seseorang. Malabsorbsi dan maldigesti dapat disebabkan oleh karena defisiensi enzim atau adanya gangguan pada mukosa usus tempat absorbsi dan digesti zat tersebut. Contoh penyakitnya: pankreatitits, Ca pankreas, penyakitt Chrons pada illeum terminalis, Sprue Celiac, penyakit whipple’s, amiloidosis, defisiensi laktase, sindrom Zollinger-Ellison, gangguan paska gasterektomi, reseksi usus halus atau kolon.

Keluhan dan Gejala

Pasien dengan malabsorbsi makanan biasanya datang dengan keluhan diare kronis, biasanya bentuk feses cair mengingat gangguan pada usus halus tidak ada zat nutrisi yang terabsorbsi sehingga feses tak berbentuk. Jika masalah pasien karena malabsorbsi lemak maka pasien akan mengeluh fesesnya berminyak (steatore). Anamnesis yang tepat tentang kemungkinan penyebab dan perjalanan penyakit merupakan hal yang penting untuk menentukan apa terjadi malabsorbsi makanan.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda (karena defisiensi Fe, asam folat, dan B12): konjungtiva anemis, kulit pucat, status gizi kurang. Dicari tanda dan gejala spesifik tergantung dari penyebabnya.

Pemeriksaan Penunjang

  1. Darah perifer lengkap: anemia mikrositik hipokrom karena defisiensi Fe atau anemia makrositik karena defisiensi asam folat dan vitamin B12.
  2. Radiologi: foto polos abdomen.
  3. Histopatologi usus halus: lesi spesifik dan difus pada penyakit whipple, agammaglobulinemia, abetalipoproteinemia; lesi spesifik dan setempat pada pada: limfoma intestinal, gastrointestinal eosinofilik, amiloidosis, penyakit crohn; lesi difus dan non-spesifik pada celiac sprue, tropical sprue, defisiensi folat, defisiensi B12, sindrom Zollinger-Ellison.
  4. Lemak feses.
  5. Laboratorium lain: fungsi prankeas, asam empedu pernafasan, toleransi xylose, absorbsi pankreas, absorbsi B12.

Diagnosis Klinis

Diagnosis Malabsorbsi Makanan ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang.

Diagnosis Banding Malabsorbsi Makanan

  1. Pankreatitits
  2. Penyakitt Chrons pada illeum terminalis
  3. Sprue Celiac
  4. Penyakit whipple
  5. Amiloidosis
  6. Defisiensi laktase
  7. Sindrom Zollinger-Ellison
  8. Gangguan paska gasterektomi, reseksi usus halus atau kolon

Komplikasi:

Dehidrasi

Penatalaksanaan dan  Malabsorbsi Makanan

Perlu dilakukan konsultasi ke spesialis untuk mencari penyebab malabsorbsi makanan kemudian ditatalaksana sesuai penyebabnya.

  1. Tatalaksana tergantung dari penyebab malabsorbsi
  2. Pembatasan nutrisi tertentu
  3. Suplemen vitamin dan mineral
  4. Suplemen enzim
  5. Tata laksana farmakologi: Antibiotik diberikan jika malabsorbsi disebakan oleh overgrowth bakteri enterotoksigenik: E. colli, K. Pneumoniae dan Enterrobacter cloacae.

Rencana Tindak Lanjut

Perlu dipantau keberhasilan diet atau terapi yang diberikan kepada pasien.

Konseling dan Edukasi

  1. Keluarga ikut membantu dalam hal pembatasan nutrisi tertentu pada pasien.
  2. Keluarga juga mengamati keadaaan pasien selama pengobatan.

Kriteria Rujukan

Perlu dilakukan konsultasi ke spesialis penyakit dalam untuk mencari penyebab malabsorbsi kemudian ditatalaksana sesuai penyebabnya.

Sarana Prasarana

  1. Laboratorium Rutin
  2. Suplemen vitamin dan mineral
  3. Suplemen enzim pencernaan

Prognosis

Prognosis Malabsorbsi Makanan sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya komplikasi, dan pengobatannya. Pada umumnya, prognosis tidak mengancam jiwa, namun fungsionam dan sanationamnya adalah dubia ad bonam.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!