Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Laringitis : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Laringitis

Definisi

Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Laringitis juga merupakan akibat dari penggunaan suara yang berlebihan, pajanan terhadap polutan eksogen, atau infeksi pada pita suara. Refluks gastroesofageal, bronkitis, dan pneumonia juga dapat menyebabkan laringitis. (Kode ICD 10 Laringitis : J04.0)

Laringitis pada anak sering diderita oleh anak usia 3 bulan hingga 3 tahun, dan biasanya disertai inflamasi pada trakea dan bronkus dan disebut sebagai penyakit croup. Penyakit ini seringkali disebabkan oleh virus, yaitu virus parainfluenza, adenovirus, virus influenza A dan B, RSV, dan virus campak. Selain itu, M. pneumonia juga dapat menyebabkan croup.

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan suara serak atau hilang suara (afonia). Gejala lainnya (croup), antara lain:

  1. Gejala lokal seperti suara parau, seperti suara yang kasar atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang biasa/normal bahkan sampai tidak bersuara sama sekali (afoni). Hal ini terjadi karena gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan.
  2. Sesak nafas dan stridor.
  3. Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
  4. Gejala radang umum seperti demam, malaise.
  5. Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental.
  6. Gejala common cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam dengan temperatur yang tidak mengalami peningkatan dari 38o C.
  7. Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah, nafas berbunyi, air hunger, sesak semakin bertambah berat.
  8. Laringitis kronik ditandai dengan afonia yang persisten. Pada pagi hari, biasanya tenggorokan terasa sakit namun membaik pada suhu yang lebih hangat. Nyeri tenggorokan dan batuk memburuk kembali menjelang siang. Batuk ini dapat juga dipicu oleh udara dingin atau minuman dingin.

Faktor Risiko

  1. Penggunaan suara yang berlebihan.
  2. Pajanan terhadap zat iritatif seperti asap rokok dan minum-minuman alkohol.
  3. Adanya refluks gastroesofageal, bronkitis, dan pneumonia.
  4. Rhinitis alergi.
  5. Perubahan suhu yang tiba-tiba.
  6. Malnutrisi.
  7. Keadaan menurunnya sistem imun atau daya tahan tubuh.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan dengan laringoskopi indirek khusus untuk pasien dewasa untuk melihat daerah laring dan sekitarnya.

  1. Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak terutama dibagian atas dan bawah pita suara.
  2. Biasanya terdapat tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal
  3. Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi dalam beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah, stridor, air hunger, sesak semakin bertambah berat dengan retraksi suprasternal dan epigastrium yang dapat menyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa anak.
  4. Pada laringitis kronik, dapat ditemukan nodul, ulkus dan penebalan mukosa pita suara.

Pemeriksaan Penunjang

  1. Foto rontgen soft tissue leher AP lateral: bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis (Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.
  2. Foto thorax AP. c. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang jika diperlukan.

Klasifikasi:

  1. Laringitis Akut adalah radang akut laring, dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Keluhan berlangsung < 3 minggu dan pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan adenovirus. Penyebab lain adalah Haemofilus influenzae, Branhamellacatarrhalis, Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus dan Streptococcuspneumoniae.
  2. Laringitis Kronik; dapat terjadi setelah laringitis akut yang berulang, dan juga dapat diakibatkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum berat, polip hidung, bronchitis kronik, merokok, pajanan terhadap iritan yang bersifat konstan, dan konsumsi alkohol berlebih. Tanda dari laringitis kronik ini yaitu nyeri tenggorokan yang tidak signifikan, suara serak, dan terdapat edema pada laring. Mungkin juga disebabkan penyalahgunaan suara (vocal abuse) seperti berteriak-teriak atau biasa bicara keras.
  3. Laringitis Kronik Spesifik
  • Laringitis tuberkulosa

Penyakit ini disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati, biasanya tuberkulosis paru sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap (membutuhkan pengobatan yang lebih lama), karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi tidak sebaik paru.

Terdapat 4 stadium:

Stadium Infiltrasi

Mukosa laring membengkak, hiperemis (bagian posterior), dan pucat. Terbentuk tuberkel di daerah submukosa, tampak sebagai bintik-bintik kebiruan. Tuberkel membesar, menyatu sehingga mukosa di atasnya meregang. Bila pecah akan timbul ulkus.

Stadium Ulserasi

Ulkus membesar, dangkal, dasarnya ditutupi perkejuan dan terasa nyeri oleh pasien

Stadium perikondritis

Ulkus makin dalam mengenai kartilago laring, paling sering terkena kartilago aritenoid, dan epiglottis. Terbentuk nanah yang berbau sampai terbentuk sekuester. Pada stadium ini keadaan pasien buruk dan dapat meninggal. Bila bertahan maka berlanjut ke stadium akhir yaitu stadium fibrotuberkulosis

Stadium fibrotuberkulosis

Terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara, dan subglotik.

  • Laringitis luetika

Radang menahun ini jarang ditemukan. Pada penyakit laringitis tergolong lues stadium tersier yaitu stadium pembentukan guma yang dapat terjadi pada laring.

Diagnosis Banding

  1. Benda asing pada laring
  2. Faringitis
  3. Bronkiolitis
  4. Bronkitis
  5. Pneumonia
  6. Tumor pada laring

Komplikasi

  1. Pneumonia
  2. Bronkhitis

Pengobatan Laringitis

a. Istirahat yang cukup, terutama pada laringitis akibat virus. Istirahat ini juga meliputi pengistirahatan pita suara.

b. Menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk.

c. Menghindari udara kering.

d. Minum cairan yang banyak.

e. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol.

f. Bila diperlukan rehabilitasi suara (voice therapy).

g. Pengobatan simptomatik dapat diberikan dengan parasetamol atau ibuprofen sebagai antipiretik jika pasien demam. Bila ada gejala nyeri tenggorokan dapat diberikan analgetik dan bila hidung tersumbat dapat diberikan dekongestan nasal seperti fenilpropanolamin (PPA), efedrin, pseudoefedrin.

h. Pemberian antibiotik dilakukan bila peradangan dari paru dan bila penyebab berupa streptokokus grup A dapat ditemukan melalui kultur. Pada kasus ini, antibiotik yang dapat digunakan yaitu penicillin

  1. Proton Pump Inhibitor pada laringitis dengan penyebab GERD (Laringofaringeal refluks).
  2. Kortikosteroid dapat diberikan jika laringitis berat.
  3. Bila terdapat sumbatan laring dilakukan pemasangan pipa endotrakea, atau trakeostomi.
  4. Laringitis tuberkulosa, sesuai dengan penyakit TBC diberikan obat antituberkulosa.
  5. Laringitis Luetika diberikan obat sesuai penyakit leutika, penisilin dengan dosis tinggi.

Konseling dan Edukasi

Memberitahu pasien dan keluarga untuk:

  1. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
  2. Menghentikan merokok.
  3. Mengistirahatkan pasien berbicara dan bersuara atau tidak bersuara berlebihan.
  4. Menghindari makanan yang mengiritasi seperti makanan pedas dan minum es.

Pemeriksaan penunjang lanjutan

  1. Kultur eksudat pada kasus laringitis yang lebih berat.
  2. Biopsi, yang biasanya dilakukan pada pasien penyakit kronik dengan riwayat merokok atau ketergantungan alkohol atau pada daerah yang dicurigai menyerupai tumor

Kode ICD 10

Kode ICD X Laringitis adalah J04.0

Tags:

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!