Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Keracunan Makanan : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Gejala Keracunan Makanan
Gejala Keracunan Makanan

Definisi

Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.  (Kode ICD 10 Keracunan makanan   : T.62.2)

Keluhan

  1. Diare akut. Pada keracunan makanan biasanya berlangsung kurang dari 2 minggu
  2. Darah atau lendir pada tinja; menunjukkan invasi mukosa usus atau kolon.
  3. Nyeri perut. Nyeri kram otot perut; menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada kolera yang berat.
  4. Kembung.

Faktor Risiko

  1. Riwayat makan/minum di tempat yang tidak higienis
  2. Konsumsi daging /unggas yang kurang matang dapat dicurigai untuk Salmonella spp, Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium perfringens.
  3. Konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai

Pemeriksaan Fisik Patognomonis

Pemeriksaan fisik harus difokuskan untuk menilai keparahan dehidrasi.

  1. Diare, dehidrasi, dengan tanda–tanda tekanan darah turun, nadi cepat, mulut kering, penurunan keringat, dan penurunan output urin.
  2. Nyeri tekan perut, bising usus meningkat atau melemah.

Pemeriksaan Penunjang

  1. Lakukan pemeriksaan mikroskopis dari feses untuk telur cacing dan parasit.
  2. Pewarnaan Gram, KOH dan metilenbiru Loeffler untuk membantu membedakan penyakit invasifdari penyakitnon-invasif.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Diagnosis Banding

  1. Intoleransi
  2. Diare spesifik seperti disentri, kolera dan lain-lain.

Penatalaksanaan dan Pengobatan Keracunan Makanan

  1. Karena sebagian besar kasus gastroenteritis akut adalah self-limiting, pengobatan khusus tidak diperlukan. Dari beberapa studi didapatkan bahwa hanya 10% kasus membutuhkan terapi antibiotik. Tujuan utamanya adalah rehidrasi yang cukup dan suplemen elektrolit. Hal ini dapat dicapai dengan pemberian cairan rehidrasi oral (oralit) atau larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida isotonik, larutan Ringer Laktat). Rehidrasi oral dicapai dengan pemberian cairan yang mengandung natrium dan glukosa. Obat absorben (misalnya, kaopectate, aluminium hidroksida) membantu memadatkan feses diberikan bila diare tidak segera berhenti. Diphenoxylate dengan atropin (Lomotil) tersedia dalam tablet (2,5 mg diphenoxylate) dan cair (2,5 mg diphenoxylate / 5 mL). Dosis awal untuk orang dewasa adalah 2 tablet 4 kali sehari (20 mg / d). Digunakan hanya bila diare masif.
  2. Jika gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus ditentukan dengan melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk.
  3. Modifikasi gaya hidup dan edukasi untuk menjaga kebersihan diri.Konseling dan Edukasi Edukasi kepada keluarga untuk turut menjaga higiene keluarga dan pasien.

Kriteria Rujukan

  1. Gejala keracunan tidak berhenti setelah 3 hari ditangani dengan adekuat.
  2. Pasien mengalami perburukan.

Dirujuk ke layanan sekunder dengan spesialis atau spesialis anak.

Sarana Prasarana

  1. Cairan rehidrasi (NaCl 0,9%, RL, oralit )
  2. Infus set
  3. Antibiotik bila diperlukan

Prognosis

Prognosis umumnya bila pasien tidak mengalami komplikasi adalah bonam.

Kode ICD X

Kode ICD 10 Keracunan Makanan : T.62.2

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!