Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Keputihan Atau Fluor Albus : Gejala, Diagnosis, Pengobatan

Keputihan
Keputihan

Pengertian Keputihan / Fluor Albus

Keputihan atau Vaginal discharge / Fluor Albus atau keluarnya duh tubuh dari vagina secara fisiologis mengalami perubahan sesuai dengan siklus menstruasi. Cairan kental dan lengket pada seluruh siklus namun lebih cair dan bening ketika terjadi ovulasi. Masih dalam batas normal bila duh tubuh vagina lebih banyak terjadi pada saat stres emosi, kehamilan atau aktivitas seksual. Vaginal discharge atau keputihan yang patologis bila terjadi perubahan-perubahan pada warna, konsistensi, volume, dan baunya.  (ICD 10 : N98.9)

Keluhan

a. Biasanya terjadi pada daerah genitalia perempuan yang berusia diatas 12 tahun, ditandai dengan adanya perubahan pada duh tubuh disertai salah satu atau lebih gejala rasa gatal, nyeri, disuria, nyeri panggul, perdarahan antar menstruasi atau perdarahan pasca-koitus.

b. Terdapat riwayat koitus dengan pasangan yang dicurigai menularkan .

Hasil Pemeriksaan Fisik

Penyebab keputihan / fluor albus terbagi menjadi masalah infeksi dan non infeksi.

Masalah non infeksi dapat karena benda asing, peradangan akibat alergi atau iritasi, tumor, vaginitis atropik, atau prolaps uteri, sedangkan masalah infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau virus seperti berikut ini:

  1. Kandidiasis vaginitis, disebabkan oleh Candida Albicans, duh tubuh tidak berbau, pH < 4,5 , terdapat eritema vagina dan eritema satelit di luar vagina
  2. Vaginosis bakterial (pertumbuhan bakteri anaerob, biasanya Gardnerella vaginalis), memperlihatkan adanya duh putih/abu-abu yang melekat disepanjang dinding vagina dan vulva, berbau amis dengan pH > 4.5
  3. Cervisitis yang disebabkan oleh chlamydia, dengan gejala inflamasi serviks yang mudah berdarah dan disertai duh mukopurulen
  4. Trichomoniasis, seringkali asimtomatik, kalau bergejala, tampak duh kuning kehijauan, duh berbuih, bau amis dan pH > 4,5
  5. Pelvic inflammatory disease (PID) yang disebabkan oleh Chlamydia, ditandai dengan nyeri abdomen bawah, dengan atau tanpa demam. Servisitis bisa ditandai dengan kekakuan adneksa dan serviks pada nyeri angkat palpasi bimanual.
  6. Liken planus
  7. Gonore
  8. Infeksi menular seksual lainnya
  9. Atau adanya benda asing (misalnya tampon atau kondom yang terlupa diangkat)

Periksa klinis dengan seksama untuk menyingkirkan adanya kelainan patologis yang lebih serius. Pasien yang memiliki risiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknya ditawarkan untuk diperiksa Chlamydia, gonorrhoea, sifilis dan HIV. Swab vagina atas (high vaginal swab) tidak terlalu berarti untuk diperiksa, kecuali pada keadaan keraguan menegakkan diagnosis, gejala kambuh, gagal, atau pada saat kehamilan, post partum, post aborsi dan post instrumentation.

Diagnosis Klinis Keputihan

Diagnosis keputihan ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan spekulum, palpasi bimanual, uji pH duh vagina dan swab (bila diperlukan)

Penatalaksanaan dan Pengobatan Keputihan

Pasien keputihan dengan riwayat risiko rendah penyakit menular seksual dapat diobati sesuai dengan gejala dan arah diagnosisnya. Vaginosis bakterial:

  1. Metronidazole atau Clindamycin secara oral atau per vaginam.
  2. Tidak perlu pemeriksaan silang dengan pasangan pria.
  3. Bila sedang hamil atau menyusui gunakan metronidazole 400 mg 2x sehari untuk 5-7 hari atau pervaginam. Tidak direkomendasikan untuk minum 2 g peroral.
  4. Tidak dibutuhkan peningkatan dosis kontrasepsi hormonal bila menggunakan antibiotik yang tidak menginduksi enzim hati.
  5. Pasien yang menggunakan IUD tembaga dan mengalami vaginosis bakterial dianjurkan untuk mengganti metode kontrasepsinya.

Vaginitis kandidiosis terbagi atas:

  1. Infeksi tanpa komplikasi
  2. Infeksi parah
  3. Infeksi kambuhan
  4. Dengan kehamilan
  5. Dengan Diabetes atau imunokompromi

Penatalaksanaan vulvovaginal kandidiosis:

  1. Dapat diberikan azole antifungal oral atau pervaginam
  2. Tidak perlu pemeriksaan pasangan
  3. Pasien dengan vulvovaginal candidiosis yang berulang dianjurkan untuk memperoleh pengobatan paling lama 6 bulan.
  4. Pada saat kehamilan, hindari obat anti-fungi oral, dan gunakan imidazole topikal hingga 7 hari.
  5. Hati-hati pada pasien pengguna kondom atau kontrasepsi lateks lainnya, bahwa penggunaan antifungi lokal dapat merusak lateks
  6. Pasien pengguna kontrasepsi pil kombinasi yang mengalami vulvovaginal kandidiosis berulang, dipertimbangkan untuk menggunakan metoda kontrasepsi lainnya

Chlamydia:

a. Azithromycin 1g single dose, atau Doxycycline 100 mg 2x sehari untuk 7 hari

b. Ibu hamil dapat diberikan Amoxicillin 500 mg 3x sehari untuk 7 hari atau Eritromisin 500 mg 4x sehari untuk 7 hari

Trikomonas vaginalis:

a. Obat minum nitromidazole (contoh metronidazole) efektif untuk mengobati trikomonas vaginalis

b. Pasangan seksual pasien trikomonas vaginalis harus diperiksa dan diobati bersama dengan pasien

c. Pasien HIV positif dengan trikomonas vaginalis lebih baik dengan regimen oral penatalaksanaan beberapa hari dibanding dosis tunggal

d. Kejadian trikomonas vaginalis seringkali berulang, namun perlu dipertimbangkan pula adanya resistensi obat

Komplikasi Keputihan:

a. Radang panggul (Pelvic Inflamatory Disease = PID) dapat terjadi bila infeksi merambah ke atas, ditandai dengan nyeri tekan, nyeri panggul kronis, dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik

b. Infeksi vagina yang terjadi pada saat pasca aborsi atau pasca melahirkan dapat menyebabkan kematian, namun dapat dicegah dengan diobati dengan baik

c. Infertilitas merupakan komplikasi yang kerap terjadi akibat PID, selain itu kejadian abortus spontan dan janin mati akibat sifilis dapat menyebabkan infertilitas

d. Kehamilan ektopik dapat menjadi komplikasi akibat infeksi vaginal yang menjadi PID.

Kriteria rujukan

Pasien Keputihan dirujuk apabila:

a. Tidak terdapat fasilitas pemeriksaan untuk pasangan

b. Dibutuhkan pemeriksaan kultur kuman gonore

c. Adanya arah kegagalan pengobatan

Sarana Prasarana

a. Ginecology bed

b. Spekulum vagina

c. Lampu

d. Kertas lakmus

Prognosis

Prognosis pasien keputihan pada umumnya dubia ad bonam. Faktor-faktor yang menentukan prognosis, antara lain: a. Prognosis lebih buruk apabila: adanya gejala radang panggul b. Prognosis lebih baik apabila: mampu memelihara kebersihan diri (hindari penggunaan antiseptik vagina yang malah membuat iritasi dinding vagina)

Baca Juga: Dermatitis Kontak Iritan

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!