Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Kejang Demam atau Step Pada Anak : Diagnosis, Pengobatan

kejang demam step sawan
Kejang Demam Pada Anak

Pengertian

Kejang demam atau step sawan adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38ºC) akibat dari suatu proses ekstra kranial. Kejang berhubungan dengan demam, tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain. (Kode ICD 10 Kejang Demam : R56)

Keluhan

Keluhan utama adalah kejang. Anamnesis dimulai dari riwayat perjalanan penyakit sampai terjadinya kejang,kemudian mencari kemungkinan adanya faktor pencetus atau penyebab kejang. Umumnya terjadi pada anak dan berlangsung pada permulaan demam akut, berupa serangan kejang klonik umum atau tonik klonik, singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post iktal.

Penting untuk ditanyakan riwayat kejang sebelumnya, kondisi medis yang berhubungan, obat-obatan, trauma, gejala infeksi, keluhan neurologis, nyeri atau cedera akibat kejang.

Faktor risiko

a. Demam

  1. Demam yang berperan pada KD, akibat:
  1. Derajat demam:
  • 75% dari anak dengan demam ≥ 39ºC
  • 25% dari anak dengan demam ≥ 40ºC

b. Usia

  1. Umumnya terjadi pada usia 6 bulan – 6 tahun
  2. Puncak tertinggi pada usia 17 – 23 bulan
  3. Kejang demam sebelum 5 – 6 bulan mungkin disebabkan oleh infeksi SSP
  4. Kejang demam diatas umur 6 tahun, perlu dipertimbangkan febrile seizure plus (FS+).

c. Gen

  1. Risiko meningkat 2 – 3x bila saudara kejang demam
  2. Risiko meningkat 5% bila orang tua menderita kejang demam

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dimulai dengan tanda-tanda vital, mencari tanda-tanda trauma akut kepala, dan adanya kelainan sistemik, terpapar zat toksik, infeksi, atau adanya kelainan neurologis fokal. Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor penyebab.

Pemeriksaan Penunjang

Untuk menentukan faktor penyebab dan komplikasi kejang pada anak, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain, yaitu:

  1. Laboratorium darah, seperti: kadar gula darah, elektrolit, dan hitung jenis. Pemeriksaan ini dianjurkan pada pasien dengan kejang pertama.
  2. Pemeriksaan urin direkomendasikan pada pasien yang tidak memiliki kecurigaan fokus infeksi.

Klasifikasi terbagi menjadi 2, yaitu:

a. Kejang demam sederhana

  1. Kejang generalisata
  2. Durasi: < 15 menit
  3. Kejang tidak disebabkan oleh adanya meningitis, encephalitis, atau penyakit yang berhubungan dengan gangguan di otak
  4. Kejang tidak berulang dalam 24 jam.

b. Kejang demam kompleks

  1. Kejang fokal
  2. Durasi: > 15 menit
  3. Dapat terjadi kejang berulang dalam 24 jam.

Diagnosis Banding

  1. Meningitis
  2. Ensefalitis
  3. Epilepsi
  4. Gangguan metabolik, seperti: gangguan elektrolit.

Komplikasi

  • Kerusakan sel otak
  • Risiko kejang atipikal apabila sering berulang

Pengobatan

  1. Keluarga pasien diberikan informasi selengkapnya mengenai penyakit ini dan prognosisnya.
  2. Pemberian farmakoterapi untuk mengatasi kejangnya adalah dengan:
  • Diazepam per rektal (0,5mg/kg) atau lorazepam (0,1 mg/kg) harus segera diberikan jika akses intravena tidak dapat dibangun dengan mudah.
  • Buccal midazolam (0,5 mg/kg, dosis maksimal = 10 mg) lebih efektif daripada diazepam per rektal untuk anak.
  • Lorazepam intravena, setara efektivitasnya dengan diazepam intravena dengan efek samping yang lebih minimal (termasuk depresi pernapasan) dalam pengobatan kejang tonik klonik akut. Bila akses intravena tidak tersedia, midazolam adalah pengobatan pilihan.

Farmakoterapi untuk mengatasi kejang Obat Buccal

Tabel Obat Kejang Demam Step Sawan
Tabel Obat Kejang Demam Step Sawan

Konseling dan Edukasi

Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu pihak keluarga mengatasi pengalaman menegangkan dengan memberikan informasi mengenai:

  • Prognosis
  • Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah atau kesulitan intelektual akibat kejang demam.
  • Kejang kurang dari 30 menit tidak mengakibatkan kerusakan otak.
  • Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa depan.
  • Rendahnya risiko terkena epilepsi dan kurangnya manfaat menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam mengubah risiko itu.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!