Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Hipermetropia atau Rabun Dekat : Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Rabun Dekat atau Hipermetropia
Ilustrasi Hipermetropia

Masalah

Hipermetropia (ICD X : H52.0) merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan dimana sinar sejajar jauh tidak cukup kuat dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina. Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin. Hipermetrop pada -anak tidak perlu dikoreksi kecuali bila disertai dengan gangguan motor sensorik ataupun keluhan astenopia. Sinonim: rabun dekat

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan melihat dekat dan jauh kabur.

  1. Gejala penglihatan dekat, kabur lebih awal, terutama bila lelah dan penerangan kurang.
  2. Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat. Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif = eye strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas pada jangka waktu yang lama, misalnya menonton TV dan lain-lain.
  3. Mata sensitif terhadap sinar.
  4. Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia. Mata juling dapat terjadi karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti konvergensi yang berlebihan pula.

Pemeriksaan Fisik

a. Pemeriksaan refraksi subjektif

  1. Penderita duduk menghadap kartu snellen pada jarak 6 meter.
  2. Pada mata dipasang bingkai percobaan. Satu mata ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih dahulu untuk memeriksa mata kanan.
  3. Penderita disuruh membaca kartu snellen mulai huruf terbesar (teratas) dan diteruskan pada baris bawahnya sampai pada huruf terkecil yang masih dapat dibaca. Lensa positif terkecil ditambah pada mata yang diperiksadan bila tampak lebih jelas oleh penderita lensa positif tersebut ditambah kekuatannya perlahan–lahan dan disuruh membaca huruf-huruf pada baris yang lebih bawah. Ditambah kekuatan lensa sampai terbaca huruf-huruf pada baris 6/6. Ditambah lensa positif +0.25 lagi dan ditanyakan apakah masih dapat melihat huruf-huruf di atas.
  4. Mata yang lain diperiksa dengan cara yang sama.
  5. Penilaian: bila dengan S +2.00 tajam penglihatan 6/6, kemudian dengan S +2.25 tajam penglihatan 6/6 sedang dengan S +2.50 tajam penglihatan 6/6-2 maka pada keadaan ini derajat hipermetropia yang diperiksa S +2.25 dan dengan ukuran ini diberikan pada penderita. Pada penderita hipermetropia selama diberikan lensa sferis positif terbesar yang memberikan tajam penglihatan terbaik.

b. Pada pasien dengan daya akomodasi yang masih sangat kuat atau pada anak-anak, sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan pemberian siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi.

Diagnosis Klinis

Penegakan diagnosis dengan anamnesis dan pemeriksaan refraksi subjektif.

Komplikasi

  1. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi.
  2. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.
  3. Ambliopia

Penatalaksanaan dan Hipermetropia

Koreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik.

Konseling dan Edukasi

Memberitahu keluarga jika penyakit ini harus dikoreksi dengan bantuan kaca mata. Karena jika tidak, maka mata akan berakomodasi terus menerus dan menyebabkan komplikasi.

Kriteria rujukan

Rujukan dilakukan jika timbul komplikasi.

Sarana Prasarana

  1. Snellen chart
  2. Satu set lensa coba (trial frame)

Prognosis

Prognosis pada umumnya ad bonam jika segera dikoreksi dengan lensa sferis positif.

Kode ICD X

Kode ICD Hipermetropia adalah H52.0

Tags:

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!