Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Diabetes Mellitus : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus atau adalah gangguan metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau kedua-duanya. (Kode ICD Diabetes Melitus : E10,E11)

Keluhan

  1. Polifagia
  2. Poliuri
  3. Polidipsi

d. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya

Keluhan tidak khas :

  1. Lemah
  2. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas)
  3. Gatal
  4. kabur
  5. Disfungsi ereksi pada pria
  6. Pruritus vulvae pada wanita
  7. gLuka yang sulit sembuh

Faktor risiko

DM tipe 2:

  1. Berat badan lebih dan obese (IMT ≥25 kg/m2)
  2.  Riwayat penyakit Diabetes Melitus di keluarga
  3. Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi hipertensi)
  4. Pernah didiagnosis penyakit atau stroke (kardiovaskular)
  5. Kolesterol HDL < 35 mg/dl dan / atau Trigliserida > 250 mg /dL atau sedang dalam dislipidemia
  6. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram atau pernah didiagnosis Diabetes Melitus Gestasional
  7. Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic ovary syndrome) h. Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa tergangu) / TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)
  8. Aktifitas jasmani yang kurang

Pemeriksaan Fisik Patognomonis

Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya

Faktor Predisposisi

  1. Usia > 45 tahun
  2. Diet tinggi kalori dan lemak
  3. Aktifitas fisik yang kurang
  4. Hipertensi ( TD  140/90 mmHg )
  5. Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
  6. Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis, hipertiroidisme g. Dislipidemia

Pemeriksaan Penunjang

a. Gula Darah Puasa

b. Gula Darah 2 jam Post Prandial

c. HbA1C

Diagnosis Klinis

Kriteria diagnostik Diabetes Mellitus dan gangguan toleransi glukosa:

a. Gejala klasik Diabetes Melitus (poliuria, polidipsia, polifagi) + glukosa plasma sewaktu

≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/L). Glukosa plasma merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. ATAU
b. Gejala Klasik DM+ Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU
c. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi glukosa terganggu (TTGO) > 200 mg/dL (11.1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan beban glukosa anhidrus 75 gram yang dilarutkan dalam air. ATAU
d. HbA1C
Penentuan diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan HbA1C ≥ 6.5% belum dapat digunakan secara nasional di Indonesia, mengingat standarisasi pemeriksaan yang masih belum baik.

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari hasil yang diperoleh

Kriteria gangguan toleransi glukosa:

  1. GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100–125 mg/dl (5.6–6.9 mmol/l)
  2. TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar glukosa plasma 140–199 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram (7.8 -11.1 mmol/L)
  3. HbA1C 5.7 -6.4%*

Penentuan diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan HbA1C ≥ 6.5% belum dapat digunakan secara nasional di Indonesia, mengingat standarisasi pemeriksaan yang masih belum baik.

Penyakit penyerta yang sering terjadi pada DM di Indonesia:

  1. Diare
  2. Infeksi/ ulkus kaki
  3. Gastroparesis
  4. Hiperlipidemia
  5. Hipertensi
  6. Hipoglikemia
  7. Impotensi
  8. Penyakit jantung iskemik
  9. Neuropati/ gagal ginjal
  10. Retinopati
  11. HIV
Algoritme diagnosis Diabetes Mellitus
Algoritme diagnosis Diabetes Mellitus

Klasifikasi

a. Diabetes Mellitus tipe 1

  1. Diabetes Melitus pada usia muda, < 40 tahun
  2. Insulin dependent akibat destruksisel :
  • Immune-mediated
  • Idiopatik

b. Diabetes Mellitus tipe 2 (bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin dengan defisiensi insulin relatif – dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin)

c. Tipe lain:

  1. Defek genetik pada fungsi sel ß
  2. Defek genetik pada kerja insulin
  3. Penyakit eksokrin pankreas
  4. Endokrinopati
  5. Akibat obat atau zat kimia tertentu misalnya vacor, pentamidine, nicotinic acid, glukokortikoid, hormone tiroid, diazoxide, agonis adrenergik, thiazid, phenytoin, interferon, protease inhibitors, clozapine
  6. Infeksi
  7. Bentuk tidak lazim dari immune mediated Diabetes Melitus
  8. Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan dengan Diabetes Melitus

d. Diabetes Mellitus gestasional

Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT, GDPT, DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang berlangsung.

Skrining

Penilaian adanya risiko Diabetes Mellitus Gestasional perlu dilakukan sejak kunjungan pertama untuk pemeriksaan kehamilannya.

Faktor risiko DMG meliputi :

  1. Riwayat DMG sebelumnya atau TGT atau GDPT
  2. Riwayat keluarga dengan diabetes
  3. Obesitas berat (>120% berat badan ideal)
  4. Riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau dengan berat badan lahir > 4000 gr
  5. Abortus berulang
  6. Riwayat PCOS (Polycistic Ovari Syndrome)
  7. Riwayat pre-eklampsia
  8. Glukosuria
  9. Infeksi saluran kemih berulang atau kandidiasis

Pada wanita hamil yang memiliki risiko tinggi DMG perlu dilakukan tes DMG pada minggu ke-24 – 28 kehamilan

Diagnosis

Bila didapatkan GDS ≥ 200mg mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl yang sesuai dengan batas diagnosis untuk diabetes, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada waktu lain untuk konfirmasi. Pasien hamil dengan TGT dan GDPT dikelola sebagai DMG.

Diagnosis Banding

Diabetes insipidus pada ibu hamil

Komplikasi

a. Akut:

  1. Ketoasidosis diabetik
  2. Hiperosmolar non ketotik
  3. Hipoglikemia

b. Kronik:

  1. Makroangiopati
  2. Pembuluh darah jantung
  3. Pembuluh darah perifer
  4. Pembuluh darah otak

c. Mikroangiopati:

  1. Pembuluh darah kapiler retina
  2. Pembuluh darah kapiler renal

d. Neuropati

e. Gabungan:

  1. Kardiomiopati
  2. Rentan infeksi
  3. Kaki diabetik
  4. Disfungsi ereksi

Penatalaksanaan dan Pengobatan Diabetes Mellitus

Terapi untuk Diabetes Mellitus dilakukan dengan modifikasi gaya hidup dan pengobatan (algoritma pengelolaan Diabetes Mellitus tipe 2)

Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis , spesialis obstetri ginekologis, ahli diet, dan spesialis . Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu, kesakitan dan kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan.

Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar GDP ≤ 95 mg/dl dan 2 jam sesudah makan ≤ 120 mg/dl. Apabila sasaran glukosa darah tidak tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani, langsung diberikan insulin. Ibu hamil dengan DMG perlu dilakukan skrining DM pada 6-12 minggu pasca melahirkan dan skrining DM lanjutan untuk melihat perkembangan ke arah DM atau pre-diabetes.

Algoritma pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 tanpa komplikasi
Algoritma pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 tanpa komplikasi

Catatan: Pemilihan jenis obat hipoglikemik oral (OHO) dan insulin bersifat individual tergantung kondisi pasien dan sebaiknya mengkombinasi obat dengan cara kerja yang berbeda.

Cara Pemberian OHO, terdiri dari:

  1. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahapsesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikansampai dosis optimal.
  2. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan.
  3. Repaglinid, Nateglinid: sesaat sebelum makan.
  4. Metformin : sebelum/pada saat/sesudah makan.
  5. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapanpertama.
  6. Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan.
  7. DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atausebelum makan.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Urinalisis (proteinuri dan mikroalbuminuria), funduskopi, ureum, kreatinin, lipid profil, EKG, foto thorak.

Rencana tindak lanjut:

Tindak lanjut adalah untuk pengendalian kasus Diabetes Melitus berdasarkan parameter berikut:

Kriteria pengendalian DM (berdasarkan konsensus Diabetes Mellitus)
Kriteria pengendalian Diabetes Melitus (berdasarkan konsensus Diabetes Mellitus)

Keterangan: Angka-angka laboratorium di atas adalah hasil pemeriksaan plasma vena. Perlu konversi nilai kadar glukosa darah dari darah kapiler darah utuh dan plasma vena

Konseling dan Edukasi

Edukasi meliputi pemahaman tentang:

  1. Penyakit Diabetes Mellitus.
  2. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan Diabetes Mellitus.
  3. Penyulit Diabetes Mellitus.
  4. Intervensi farmakologis.
  5. Hipoglikemia.
  6. Masalah khusus yang dihadapi.
  7. Cara mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan.
  8. Cara mempergunakan fasilitas perawatan .
  9. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol teratur setiap 2 minggu/1 bulan.

Perencanaan Makan

Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi:

a. Karbohidrat 45 – 65 %

b. Protein 15 – 20 %

c. Lemak  20 – 25 %

Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid), dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan serat larut.

Jumlah kalori basal per hari:

a. Laki-laki : 30 kal/kg BB idaman

b. Wanita : 25 kal/kg BB idaman

Penyesuaian (terhadap kalori basal / hari):

a. Status gizi:

  1. BB gemuk – 20 %
  2. BB lebih – 10 %
  3. BB kurang + 20 %

b. Umur > 40 tahun : – 5 %

c. Stres metabolik (infeksi, operasi,dll): + (10 s/d 30 %)

d. Aktifitas:

  1. Ringan + 10 %
  2. Sedang + 20 %
  3. Berat  + 30 %

e. Hamil:

  1. trimester I, II + 300 kal
  2. trimester III / laktasi + 500 kal

Rumus Broca:*

Berat badan idaman = ( TB – 100 ) – 10 %

*Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10 % lagi.

  • BB kurang : < 90 % BB idaman
  • BB normal : 90 – 110 % BB idaman
  • BB lebih: 110 – 120 % BB idaman
  • Gemuk :  > 120 % BB idaman

Latihan Jasmani

Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, berkebun, harus tetap dilakukan.

Pemantauan dan tindak lanjut

a. Edukasi dan manajemen nutrisi

  1. Berat badan: diukur setiap kali kunjungan
  2. Penilaian rutin: kandungan, kuantitas, dan pengaturan waktu asupan makanan. Disesuaikan dengan kebutuhan.
  3. Target : penurunan berat badan menuju berat badan ideal dan kontrol gula darah tercapai.

b. Latihan fisik

  1. Penilaian aktivitas fisik ; paling sedikit setiap tiga bulan sekali
  2. Rencana latihan: penggabungan dengan pilihan aktivitas sekarang ini dan level aktivitas; ditingkatkan sampai batas toleransi. Dianjurkan 150 menit / minggu (durasi 30-45 menit dengan interval 3-5 x / minggu) dengan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang (50-70% Maximum Heart Rate).
  3. Aktivitas fisik disesuaikan dengan komplikasi Diabetes Mellitus (risiko terjadi hipoglikemia, neuropati perifer, kardiovaskular, retinopati, dan nefropati)
  4. Target : pasien melakukan aktivitas fisik secara teratur

c. Perawatan kaki

  1. Setiap kali pasien berkunjung dilakukan pemeriksaan visual kaki, sensibilitas (neuropati sensorik) , dan vaskularisasi (Ankle Branchial Index/ ABI
  2. Edukasi: inspeksi pribadi setiap hari dan perawatan secara teratur
  3. Rujukan untuk perawatan khusus, bila diperlukan

d. Monitoring kemajuan dan hambatan penatalaksanaan

  1. Lembar catatan / rekaman; dikembangkan untuk meningkatkan penilaian pasien dan komunikasi petugas kesehatan secara terusmenerus (monitor janji pertemuan, pemeriksaan fisik, nilai laboratorium, hasil pengukuran pribadi gula darah, masalah-masalah yang aktif, pengobatan, dan lain-lain)
  2. Strategi mengatasi hambatan :
  • kontak telepon kunjungan sementara ;
  • mengingatkan / mengikuti / membuat jadwal ulang janji pertemuan;
  • aktivitas sosial / edukasi grup;
  • kartu ucapan spesial / hari raya
  1. Menulis catatan mengenai interaksi pasien; didiskusikan dengan petugas kesehatan klinik untuk menjamin kelanjutan dan kualitas perawatan
  2. Dukungan komunitas: Adanya dukungan keluarga / orang lain yang penting untuk mengatur janji pertemuan dan kegiatan lain.
  3. Penugasan staf: diperlukan untuk mengoptimalkan interaksi dan perawatan, serta mengurangi hambatan pasien
  4. Penilaian manajemen pribadi secara terus-menerus : menyediakan / menunjukkan untuk edukasi Diabetes Mellitus, dan / atau pedoman latihan, dukungan psikososial, atau sumber daya komunitas.

e. Pencegahan retinopati / pengobatan

  1. Pemeriksaan retina mata dan / atau pembuatan foto retina dilakukan segera setelah diagnosis Diabetes Mellitus ditegakkan dan diulang paling sedikit 1 tahun sekali dan lebih sering bila ada retinopati.
  2. Untuk menurunkan risiko / memperlambat progresivitas retinopati maka perlu mengoptimalkan kontrol gula darah dan tekanan darah 3. Bila terdapat retinopati, dirujuk ke dokter spesialis mata

f. Pencegahan kasus penyulit

  1. Tes untuk melihat ekskresi albumin urin dan kreatinin serum pada DM dilakukan pada saat pertama kali diagnosis Diabetes Melitus ditegakkan, serta diulang pengukurannya secara rutin paling sedikit 1 tahun sekali.
  2. Untuk menurunkan risiko / memperlambat progresivitas nefropati maka perlu mengoptimalkan kontrol gula darah dan tekanan darah
  3. Pasien DM tipe II dengan Hipertensi dan mikroalbuminuria, baik ACEI / ARB dapat memperlambat progresi ke makroalbuminuria
  4. Pasien DM tipe II dengan hipertensi, makroalbuminuria, dan insuffiensi renal (kreatinin > 1,5) berikan ARB untuk memperlambat progresivitas nefropati.
  5. Pembatasan asupan protein menjadi 0.8-1 g/kgBB/hari pada Diabetes Melitus dengan stadium awal CKD
  6. Monitor kreatinin serum dan potasium untuk melihat ARF dan hiperkalemia pada penggunaan ACE-I, ARB, atau thiazid
  7. Monitor ekskresi albumin urin untuk melihat respon terapi dan progresivitas penyakit
  8. Rujuk ke dokter spesialis bila kasus dengan penyulit

g. Manajemen hipertensi

  1. Pengukuran tekanan darah setiap kali kunjungan
  2. Bila TD sistolik ≥ 130 mmHg / diastolik  ≤  80 mmHg harus dikonfirmasi ulang di hari berbeda, bila nialinya berbeda, bila nilainya  hipertensi ≥ 130 / 80 mmHg didiagnosis hipertensi
  3. Target TD adalah < 130 / 80 mmHg
  4. TD sistolik 130-139 atau diastolik 80-89 mmHg : modifikasi gaya hidup selama maksimal 3 bulan, bila target tidak tercapai, tambahkan OAH
  5. TD sistolik ≥ 140 mmHg / Diastolik–> terapi modifikasi gaya hidup
  6. OAH yang digunakan adalah ACE-I / ARB, bisa juga ditambahkan HCT dengan GFR ≥ 50ml/min per 1.73 m2
  7. Terapi obat multipel biasanya digunakan untuk mencapai target TD
  8. Monitor selalu fungsi ginjal dan kadar potassium darah
  9. Pada pasien hamil dengan Diabetes Melitus, target TD 100-129 / 65-79 mmHg Obat yang dipakai : metildopa, labetalol, diltiazem, clonidin, prazosine

Prognosis

Prognosis Diabetes Mellitus umumnya adalah dubia. Karena penyakit ini adalah penyakit kronis, quo ad vitam umumnya adalah dubia ad bonam, namun quo ad fungsionam dan sanationamnya adalah dubia ad malam.

One Comment

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!