Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Diabetes Melitus : Makalah/Referat Lengkap dan Mendalam

        

DEFINISI

Menurut American Diabetes Association ( ADA ) 2003, diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.

KLASIFIKASI

  1. Diabetes melitus tipe 1
Terjadi destruksi sel b, umumnya menurus ke defisiensi insulin absolut. Terjadi melalui proses imunologik atau idiopatik. Gambaran klinik biasanya timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balig. Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.

 

2. Diabetes melitus tipe 2
Jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari 90%). Timbul makin sering setelah umur 40 tahun.

 

3. Diabetes melitus tipe lain
Defek genetik fungsi sel b, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM (Sindrom Down, Sindrom Klinefelter, chorea Hungtinton, porfiria, dan lain-lain).

 

4. Diabetes melitus gestasional
Diabetes yang mulai timbul atau mulai diketahui selama kehamilan.

Perbandingan antara DM tipe 1 dengan DM tipe 2

 

 

 

 

DM tipe 1

 

 

DM tipe 2

 

 

Nama lama

 

Umur (th)

 

Keadaan klinik saat diagnosis

 

Kadar insulin

 

Berat badan

 

Terapi

 

 

DM Juvenil

 

Biasa<40 (tapi tak selalu)

 

Berat

 

Tak ada insulin

 

Biasanya kurus

 

Insulin, diet, olah raga.

 

 

DM dewasa

 

Biasa>40 (tapi tak selalu)

 

Ringan

 

Insulin cukup / tinggi

 

Biasanya gemuk / normal

 

Diet, olah raga, tablet, insulin

 

 

ETIOLOGI

DM tipe 2 disebut juga Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) disebabkan karena kegagalan relatif sel b dan resistensi insulin.  Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel b tidak mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berarti sel b pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa.

 

Pada awalnya resistensi insulin belum menyebabkan diabetes klinis. Sel b pankreas masih dapat mengkompensasi, sehingga terjadi hiperinsulinemia, kadar glukosa darah masih normal atau baru sedikit meningkat. Kemudian setelah terjadi kelelahan sel b pankreas, baru terjadi diabetes melitus klinis, yang ditandai dengan adanya kadar glukosa darah yang meningkat, memenuhi kriteria diagnosis diabetes melitus.

PATOFISIOLOGI

Pada DM tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak. Tetapi jumlah reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang. Reseptor insulin ini dapat diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang, hingga meskipun kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan sedikit, sehingga sel akan kekurangan bahan bakar (glukora) dan glukosa di dalam pembuluh darah meningkat.

GEJALA KLINIS

  • Banyak makan (polifagia)
  • Sering merasa haus (polidipsia)
  • Sering kencing (poliuria) terutama malam hari
  • Lemas
  • Berat badan menurun
  • Kesemutan pada jari tangan dan kaki
  • Gatal-gatal
  • Penglihatan kabur
  • Impotensi pada pria
  • Pruritus vulva pada wanita
  • Luka sukar sembuh
  • Melahirkan bayi dengan berat badan > 4 kg

     

FAKTOR RISIKO DM

Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi

  • Riwayat keluarga dengan DM
  • Umur. Risiko untuk menderita prediabetes meningkat seiring dengan meningkatnya usia.
  • Riwayat pernah menderita DM gestasional
  • Riwayat lahir dengan BB rendah, kurang dari 2,5 kg. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi dibanding bayi yang lahir dengan BB normal.

     

Faktor risiko yang bisa dimodifikasi

  • Berat badan lebih
  • Kurang aktifitas fisik
  • Hipertensi
  • Dislipidemia
  • Diet tak sehat. Diet dengan tinggi gula dan rendah serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes dan DM tipe 2.

     

Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :

  • Penderita polycictic ovary syndrome (PCOS)
  • Penderita sindroma metabolik

     

DIAGNOSIS

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood) vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler.

PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup diabetisi.

v  Tujuan penatalaksanaan
A.    Jangka pendek : hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah.
B.     Jangka panjang : tercegah dan terhambatnya progresivitas penyulit mikroaniopati, makroangiopati, dan neuropati. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan maortalitas dini DM.

 

v  Pilar penatalaksanaan DM
1.      Edukasi
2.      Terapi gizi medis
3.      Latihan jasmani
4.      Intervensi farmakologis

 

Pengelolaan DM dimulai dengan terapi gizi medis dan latihan jasmani selama beberapa waktu ( 2 – 4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis berat, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan pada pasien, sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.

 

Edukasi

Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang :
  • Perjalanan penyakit DM
  • Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
  • Penyulit DM dan risikonya
  • Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target perawatan.
  • Interaksi antara asupan makanan, aktifitas fisik, dan obat hipoglikemik oral atau insulin serta obat-obatan lain.
  • Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia).
  • Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit, atau hipoglikemia.
  • Pentingnya latihan jasmani yang teratur.
  •  Masalah khusus yang dihadapi (misal : hiperglikemia pada kehamilan).
  • Pentingnya perawatan diri.
  • Cara mempergunakan fasilitas perawatan .

     

Terapi gizi medis (TGM)

Setiap diabetisi sebaiknya mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai target terapi.
Prinsip pengaturan makan pada diabetisi hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada diabetisi perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin.
Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama ± 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitifitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan.

Intervensi Farmakologis

      Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan TGM dan latihan jasmani.

 

Obat Hipoglikemik Oral (OHO)

 

Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan :
  • Pemicu sekresi insulin (insuline secretagogue) : sulfonilurea dan glinid.
  • Penambah sensitifitas terhadap insulin : metformin, tiaolidindon.
  • Penghambat glukoneogenesis : metformin
  • Penhambat absorpsi glukosa : penghambat glukosidase a.

     

Insulin

 

Insulin diperlukan pada keadaan :

 

  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
  • Ketoasidosis diabetik
  • Hiperglikemia hiperosmolar nonketotik
  • Hiperglikemia dengan asidos laktat.
  • Gaga dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal.
  • Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
  • Diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali dengan TGM.
  • Ganguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
  • Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO.

Jenis dan lama kerja insulin

Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
  • Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
  • Insulin kerja pendek (short acting insulin)
  • Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
  • Insulin kerja panjang (long acting insulin)
  • Insulin campuran tetap (premixed insulin)

 

Efek samping terapi insulin

  • Efek samping utama adalah terjadinya hipoglikemia
  • Efek samping yang lain berupa reaksi ium terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.

     

PENYULIT DM

Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi penyulit akut dan menahun.

I.       Penyulit akut
1.      Ketoasidosis diabetik
2.      Hiperosmoral nonketotik
3.      Hipoglikemia
II.    Penyulit menahun
1.      Makroangiopati :
  • Pembuluh darah
  • Pembuluh darah tepi
  • Pembuluh darah otak
2.      Mikroangiopati :
  • Retinopati diabetik
  • Nefropati diabetik
  • Neuropati

Baca Juga: LAPORAN KASUS DIABETES MELITUS

 

DAFTAR PUSTAKA

Konsensus Pengelolaan dan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia
       2006. Perkumpulan Endokrinologi : 2006
Mansjoer Arif, dkk. Kapita Selekta ,edisi III, buku I. Media
      Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta : 2001
Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Fakultas Kedokteran Universitas
      Indonesia, Jakarta : 2003
Sudoyo Aru. W, dkk. Buku Ajar Ilmu , edisi IV, jilid III.
      Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2006
2 Comments

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!