Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Dermatofitosis / Penyakit Jamur Kulit : Gejala, Pengobatan

Dermatofitosis / Tinea atau Jamur
Dermatofitosis / Tinea atau Jamur

Definisi

Dermatofitosis adalah penyakit jamur kulit yang memiliki sifat mencernakan keratin di jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku. Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyebab. Sumber penularan dapat berasal dari manusia (jamur antropofilik), binatang (jamur zoofilik) atau dari tanah (jamur geofilik).  (Kode ICD 10 Dermatofitosis : B35)

Keluhan

Pada sebagian besar infeksi dermatofita, pasien datang dengan bercak merah bersisik yang gatal. Adanya riwayat kontak dengan orang yang mengalami dermatofitosis.

Faktor Risiko

  1. Lingkungan yang lembab dan panas
  2. Imunodefisiensi
  3. Obesitas
  4. Diabetes Melitus

Pemeriksaan Fisik

Gambaran umum penyakit jamur kulit: Lesi berbentuk infiltrat eritematosa, berbatas tegas, dengan bagian tepi yang lebih aktif daripada bagian tengah, dan konfigurasi polisiklik. Lesi dapat dijumpai di daerah kulit berambut terminal, berambut velus (glabrosa) dan kuku.

Pemeriksaan Penunjang

Bila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan KOH, akan ditemukan hifa panjang dan artrospora.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik.

Bila diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang.

Klasifikasi Dermatofitosis

Klasifikasi dermatofitosis yang praktis adalah berdasarkan lokasi, yaitu antara lain:

  1. Tinea kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala
  2. Tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot
  3. Tinea kruris, pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong, dan perut bagian bawah.
  4. Tinea pedis et manum, pada kaki dan tangan
  5. Tinea unguium, pada kuku jari tangan dan kaki
  6. Tinea korporis, pada bagian lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea di atas.

Bila terjadi di seluruh tubuh disebut dengan tinea imbrikata.

Diagnosis Banding

a. TINEA KORPORIS

  1. Dermatitis numularis.
  2. Pytiriasis rosea.
  3. Erythema annulare centrificum.
  4. Granuloma annulare.

b. TINEA KRURIS

  1. Candidiasis.
  2. Dermatitis Intertrigo.
  3. Eritrasma.

c. TINEA PEDIS

  1. Hiperhidrosis.
  2. Dermatitis kontak.
  3. Dyshidrotic eczema.

d. TINEA MANUM

  1. Dermatitis kontak iritan
  2. Psoriasis

e. TINEA FASIALIS

  1. Dermatitis seboroik
  2. Dermatitis kontak

Komplikasi

Jarang ditemukan, dapat berupa infeksi bakterial sekunder.

Pengobatan Penyakit Jamur Kulit

a. Hygiene diri harus terjaga, dan pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan harus dihindari.

b. Untuk lesi terbatas, diberikan pengobatan topikal, yaitu dengan:

c. Antifungal topikal seperti krim klotrimazol, mikonazol, atau terbinafin, yang diberikan hingga lesi hilang dan dilanjutkan 1-2 minggu kemudian untuk mencegah rekurensi.

d. Untuk penyakit yang tersebar luas atau resisten terhadap terapi topikal, dilakukan pengobatan sistemik dengan:

  1. Griseofulvin dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 g untuk orang dewasa dan 0,25 – 0,5 g untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 2 dosis.
  2. Golongan azol, seperti:
  • Ketokonazol: 200 mg/hari,
  • Itrakonazol: 100 mg/hari, atau
  • Terbinafin: 250 mg/hari Pengobatan diberikan selama 10-14 hari pada pagi hari setelah makan.

Konseling dan Edukasi

Pasien penyakit jamur kulit diedukasi mengenai penyebab dan cara penularan penyakit. Edukasi pasien dan keluarga juga untuk menjaga hygienetubuh, namun penyakit ini bukan merupakan penyakit yang berbahaya.

Prognosis

Pasien dengan imunokompeten, prognosis umumnya bonam, sedangkan pasien dengan imunokompromais, quo ad sanationamnya menjadi dubia ad bonam.

Kode ICD 10

Kode ICD X Penyakit Jamur Kulit adalah B35

One Comment

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!