Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Dermatitis Numularis : Gejala, Diagnosis ICD 10, Pengobatan

Pengobatan Dermatitis numularis
Dermatitis numularis

Definisi

Dermatitis numularis adalah dermatitis berbentuk lesi uang (koin) atau lonjong, berbatas tegas, dengan efloresensi berupa papulovesikel, biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing/madidans).  (Kode ICD 10 Dermatitis Numularis : L20.8)

Keluhan

Bercak merah yang basah pada predileksi tertentu dan sangat gatal. Keluhan hilang timbul dan sering kambuh.

Faktor Risiko

  1. Pria.
  2. Usia 55-65 tahun (pada wanita 15-25 tahun).
  3. Riwayat trauma fisis dan kimiawi (fenomena Kobner: gambaran lesi yang mirip dengan lesi utama).
  4. Riwayat dermatitis kontak alergi.
  5. Riwayat dermatitis atopik pada kasus dermatitis numularis .
  6. Stress emosional.
  7. Minuman yang mengandung alkohol.
  8. Lingkungan dengan kelembaban rendah.
  9. Riwayat infeksi kulit sebelumnya.

Pemeriksaan Fisik

Tanda Patognomonis

  1. Lesi akut berupa vesikel dan papulo vesikel (0.3 – 1.0 cm), berbentuk uang logam, eritematosa, sedikit edema, dan berbatas tegas.
  2. Tanda eksudasi, karena vesikel mudah pecah, kemudian mengering menjadi krusta kekuningan.
  3. Jumlah lesi dapat satu, dapat pula banyak dan tersebar, bilateral, atau simetris, dengan ukuran yang bervariasi.

Tempat predileksi terutama di tungkai bawah, badan, lengan, termasuk punggung tangan.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik.

Diagnosis Banding

  1. Dermatitis kontak.
  2. Dermatitis atopi
  3. Neurodermatitis sirkumskripta.
  4. Dermatomikosis.

Dermatitis Numularis

a. Pasien disarankan untuk menghindari faktor yang mungkin memprovokasi seperti stres dan fokus infeksi di organ lain.

b. Farmakoterapi yang dapat diberikan, yaitu:

  1. Topikal (2x sehari)  Kompres terbuka dengan larutan PK (Permanganas Kalikus) 1/10.000, menggunakan 3 lapis kasa bersih, selama masingmasing 15-20 menit/kali kompres (untuk lesi madidans/basah) sampai lesi mengering. Kemudian terapi dilanjutkan dengan kortikosteroid topikal: Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonid krim 0.025%) selama maksimal 2 minggu. Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%). Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.
  2. Oral sistemik  Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau Loratadine 1×10 mg/ hari selama maksimal 2 minggu.
  3. Jika ada infeksi bakterial, diberikan antibiotik topikal atau sistemik bila lesi luas.

Komplikasi

Infeksi sekunder

Konseling dan Edukasi

  1. Memberikan edukasi bahwa kelainan bersifat kronis danberulang, sehingga penting untuk pemberian obat topikal rumatan.
  2. Menjaga terjadinya infeksi sebagai faktor risiko terjadinya relaps.

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam, apabila kelainan ringan tanpa penyulit dapat sembuh tanpa komplikasi, namun bila kelainan berat dan dengan penyulit, prognosis menjadi dubia ad bonam.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!