Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Dermatitis Atopik : Gejala, Diagnosis ICD 10 dan Pengobatan

Pengobatan Dermatitis Atopik (DA)
Dermatitis Atopi Pada Anak

Definisi Dermatitis Atopik

Dermatitis Atopik (DA) adalah peradangan kulit berulang dan kronis dengan disertai gatal. Pada umumnya terjadi selama masa bayi dan anak-anak dan sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum serta riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Sinonim dari penyakit ini adalah eczema atopik, eczema konstitusional, eczema fleksural, neurodermatitis diseminata, prurigo Besnier. (Kode ICD 10 Dermatitis Atopik : L20)

Keluhan

Pasien datang dengan keluhan gatal yang bervariasi lokasinya tergantung pada jenis dermatitis atopik (lihat klasifikasi). Gejala utama DA adalah pruritus (gatal), dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan menggaruk. Pasien biasanya mempunyai riwayat juga sering merasa cemas, egois, frustasi, agresif, atau merasa tertekan.

Faktor Risiko

a. Wanita lebih banyak menderita Dermatitis Atopik dibandingkan pria (rasio 1.3 : 1).

b. Riwayat atopi pada pasien dan atau keluarga (rhinitis alergi, konjungtivitis alergi/vernalis, asma bronkial, dermatitis atopik, dll).

c. Faktor lingkungan: jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu semakin tinggi, penghasilan meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik.

d. Riwayat sensitif terhadap wol, bulu kucing, anjing, ayam, burung, dan sejenisnya.

Faktor pemicu

a. Makanan: telur, susu, gandum, kedelai, dan kacang tanah.

b. Tungau debu rumah

c. Sering mengalami infeksi di saluran napas atas (kolonisasi Staphylococus aureus)

Pemeriksaan Fisik

Patognomonis Kulit penderita Dermatitis Atopik

a. Perabaan Kering,

b. Pucat/redup,

c. Jari tangan teraba dingin.

d. Terdapat papul, likenifikasi, eritema, erosi, eksoriasi, eksudasi dan krusta pada lokasi predileksi.

Predileksi Dermatitis Atopik

a. Tipe bayi (infantil)

  1. Dahi, pipi, kulit kepala, leher, pergelangan tangan dan tungkai, serta lutut (pada anak yang mulai merangkak)
  2. Lesi berupa eritema, papul vesikel halus, eksudatif, krusta.

b. Tipe anak

  1. Lipat siku, lipat lutut, pergelangan tangan bagian dalam, kelopak mata, leher, kadang-kadang di wajah.
  2. Lesi berupa papul, sedikit eksudatif, sedikit skuama, likenifikasi, erosi. Kadang-kadang disertai pustul.

c. Tipe remaja dan dewasa

  1. Lipat siku, lipat lutut, samping leher, dahi, sekitar mata, tangan dan pergelangan tangan, kadang-kadang ditemukan setempat misalnya bibir mulut, bibir kelamin puting susu, atau kulit kepala.
  2. Lesi berupa plak papular eritematosa, skuama, likenifikasi, kadangkadang erosi dan eksudasi, terjadi hiperpigmentasi.

Berdasarkan derajat keparahan terbagi menjadi

  1. Dermatitis Atopik ringan: apabila mengenai < 10% luas permukaan kulit.
  2. Dermatitis Atopik sedang: apabila mengenai kurang dari 10-50% luas permukaan kulit.
  3. Dermatitis Atopik berat: apabila mengenai kurang dari > 50% luas permukaan kulit.

Tanpa penyulit (umumnya tidak diikuti oleh infeksi sekunder).

Dengan penyulit (disertai infeksi sekunder atau meluas dan menjadi relekalsitran (tidak membaik dengan pengobatan standar).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan IgE serum

Diagnosis Klinis

Diagnosis Dermatitis Atopik ditegakkan berdasarkan anamnesis dan Pemeriksaan Fisik harus terdiri dari 3 kriteria mayor dan 3 kriteria minor dari kriteria Williams (1994) di bawah ini.

Kriteria Mayor:

  1. Pruritus
  2. Dermatitis di muka atau ekstensor pada bayi dan anak
  3. Dermatitis di fleksura pada dewasa
  4. Dermatitis kronis atau berulang
  5. Riwayat atopi pada penderita atau keluarganya

Kriteria minor:

  1. Xerosis.
  2. Infeksi kulit (khususnya oleh S. aureus atau virus herpes simpleks).
  3. Iktiosis/ hiperliniar palmaris/ keratosis piliaris.
  4. Pitriasis alba.
  5. Dermatitis di papilla mamae.
  6. White dermogrhapism dan delayed blanch response.
  7. Kelilitis.
  8. Lipatan infra orbital Dennie-Morgan.
  9. Konjunctivitis berulang.
  10. Keratokonus.
  11. Katarak subskapsular anterior.
  12. Orbita menjadi gelap.
  13. Muka pucat atau eritem.
  14. Gatal bila berkeringat.
  15. Intolerans terhadap wol atau pelarut lemak.
  16. Aksentuasi perifolikular.
  17. Hipersensitif terhadap makanan.
  18. Perjalanan penyakit dipengaruhi oleh factor lingkungan dan atau emosi.
  19. Tes kulit alergi tipe dadakan positif.
  20. Kadar IgE dalam serum meningkat.
  21. Mulai muncul pada usia dini.

Pada bayi, kriteria Diagnosis Dermatitis Atopik dimodifikasi menjadi: 3 kriteria mayor berupa:

  1. Riwayat atopi pada keluarga.
  2. Dermatitis pada muka dan ekstensor.
  3. Pruritus.

ditambah 3 kriteria minor berupa:

  1. Xerosis/iktiosis/hiperliniaris palmaris, aksentuasi perifolikular.
  2. Fisura di belakang telinga.
  3. Skuama di scalp kronis.

Diagnosis Banding Dermatitis Atopik

  1. Dermatitis seboroik (terutama pada bayi),
  2. Dermatitis kontak,
  3. Dermatitis numularis,
  4. Skabies,
  5. Iktiosis,
  6. Psoriasis (terutama di daerah palmoplantar),
  7. Sindrom Sezary,
  8. Dermatitis herpetiformis.

Pada bayi, Diagnosis banding, yaitu:

  1. Sindrom imunodefisiensi (misalnya sindrom Wiskott-Aldrich),
  2. Sindrom hiper IgE.

Komplikasi

  1. Infeksi sekunder
  2. Perluasan penyakit (eritroderma)

Penatalaksanaan dan Pengobatan Dermatitis Atopik

a. Penatalaksanaan dilakukan dengan modifikasi gaya hidup, yaitu:

  1. Menemukan faktor risiko
  2. Menghindari bahan-bahan yang bersifat iritan termasuk pakaian sepert wol atau bahan sintetik
  3. Memakai sabun dengan pH netral dan mengandung pelembab
  4. Menjaga kebersihan bahan pakaian
  5. Menghindari pemakaian bahan kimia tambahan
  6. Membilas badan segera setelah selesai berenang untuk menghindari kontak klorin yang terlalu lama
  7. Menghindari stress psikis
  8. Menghindari bahan pakaian terlalu tebal, ketat, kotor
  9. Pada bayi, menjaga kebersihan di daerah popok, iritasi oleh kencing atau feses, dan hindari pemakaian bahan-bahan medicatedbaby oil
  10. Menghindari pembersih yang mengandung antibakteri karena menginduksi resistensi

b. Untuk mengatasi keluhan, farmakoterapi diberikan dengan:

  1. Topikal (2x sehari)
  • Pada lesi di kulit kepala, diberikan kortikosteroid topikal, seperti: Desonid krim 0.05% (catatan: bila tidak tersedia dapat digunakan fluosinolon asetonidkrim 0.025%) selama maksimal 2 minggu.
  • Pada kasus dengan manifestasi klinis likenifikasi dan hiperpigmentasi, dapat diberikan golongan betametason valerat krim 0.1% atau mometason furoat krim 0.1%).
  • Pada kasus infeksi sekunder, perlu dipertimbangkan pemberian antibiotik topikal atau sistemik bila lesi meluas.
  1. Oral sistemik
  • Antihistamin sedatif yaitu: hidroksisin (2 x 1 tablet) selama maksimal 2 minggu, atau
  • Loratadine 1×10 mg/ hari atau antihistamin non sedatif lainnya selama maksimal 2 minggu

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Pemeriksaan untuk menegakkan atopi, misalnya skin prick test/tes uji tusuk pada kasus dewasa.

Konseling dan Edukasi

  1. Penyakit bersifat kronis dan berulang sehingga perlu diberi pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk menghindari faktor risiko dan melakukan perawatan kulit secara benar.
  2. Memberikan informasi kepada keluarga bahwa prinsip pengobatan adalah menghindari gatal, menekan proses peradangan, dan menjaga hidrasi kulit.
  3. Menekankan kepada seluruh anggota keluarga bahwa modifikasi gaya hidup tidak hanya berlaku pada pasien, juga harus menjadi kebiasaan keluarga secara keseluruhan.

Rencana Tindak Lanjut

  1. Diperlukan pengobatan pemeliharaan setelah fase akut teratasi. Pengobatan pemeliharaan dengan kortikosteroid topikal jangka panjang (1 kali sehari) dan penggunaan krim pelembab 2 x sehari, sepanjang waktu.
  2. Pengobatan pemeliharaan dapat diberikan selama maksimal 4 minggu.
  3. Pemantauan efek samping kortikosteroid. Bila terdapat efek samping, kortikosteroid dihentikan.

Prognosis

Prognosis pada pasien Dermatitis Atopik umumnya bonam, dapat terkendali dengan pengobatan pemeliharaan.

Kode ICD X

Kode ICD X Dermatitis Atopik adalah L20)

One Comment

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!