Download!Download Point responsive WP Theme for FREE!

Cardiorespiratory Arrest : Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Pengobatan Cardiorespiratory Arrest
Ilustrasi Cardiorespiratory Arrest

Pengertian

Cardiorespiratory Arrest (CRA) adalah kondisi karena berhentinya aktivitas jantung paru secara mendadak yang mengakibatkan kegagalan sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh malfungsi mekanik jantung paru atau elektrik jantung. Kondisi yang mendadak dan berat ini mengakibatkan kerusakan organ.

Henti napas dapat mengakibatkan penurunan tekanan oksigen arteri, menyebabkan hipoksia otot jantung yang menyebabkan henti jantung. Henti jantung adalah konsekuensi dari aktivitas otot jantung yang tidak terkoordinasi. Dengan EKG, ditunjukkan dalam bentuk Ventricular Fibrillation (VF). Satu menit dalam keadaan persisten VF, aliran darah koroner menurun hingga tidak ada sama sekali. Dalam 4 menit, aliran darah katoris tidak ada sehingga menimbulkan kerusakan neurologi secara permanen.

Keluhan dan Gejala

Pasien dibawa karena pingsan mendadak dengan henti jantung dan paru. Sebelumnya, dapat ditandai dengan fase prodromal berupa nyeri dada, sesak, berdebar dan lemah (detik – 24 jam). Kemudian, pada awal kejadian, pasien mengeluh pusing dan diikuti dengan hilangnya sirkulasi dan kesadaran (henti jantung) yang dapat terjadi segera sampai 1 jam.

Hal yang perlu ditanyakan kepada keluarga pasien adalah untuk mencari penyebab terjadinya CRA antara lain oleh: 5 H (hipovolemia, hipoksia, hidrogen ion = asidosis, hiper atau hipokalemia dan hipotermia) dan 5 T (tension pneumothorax, tamponade, tablet = overdosis obat, trombosis koroner, dan thrombosis pulmoner), tersedak, tenggelam, gagal jantung akut, emboli paru, atau keracunan karbon monoksida.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan: pasien tidak sadar, tidak ada nafas, tidak teraba nafas, tidak teraba denyut nadi di arteri-arteri besar (karotis dan femoralis).

Pemeriksaan Penunjang

EKG; Gambaran EKG biasanya menunjukkan gambaran VF (Ventricular Fibrillation). Selain itu dapat pula terjadi asistol, yang survival rate-nya lebih rendah daripada VF.

Diagnosis Klinis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Anamnesis berguna untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Komplikasi

Konsekuensi dari kondisi ini adalah hipoksia ensefalopati, kerusakan neurologi permanen dan kematian.

Pengobatan Cardiorespiratory Arrest

Melakukan resusitasi jantung paru pada pasien.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan

Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah

Konseling dan Edukasi

  1. Memberitahu keluarga mengenai kondisi pasien dan tindak lanjut dari tindakan yang telah dilakukan, serta meminta keluarga untuk tetap tenang dan tabah menemani pasien pada kondisi tersebut.
  2. Memberitahu keluarga untuk melakukan pola hidup sehat seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak, menghentikan konsumsi rokok dan alkohol, menjaga berat badan ideal, mengatur pola makan, melakukan olah raga ringan secara teratur.

Rencana Tindak Lanjut

Monitor selalu kondisi pasien hingga dirujuk ke spesialis.

Kriteria rujukan

Pasien dirujuk ke spesialis berdasarkan kemungkinan penyebab (SpPD, SpJP atau SpB, dan seterusnya) untuk tatalaksana lebih lanjut.

Sarana Prasarana

  1. Elektrokardiografi (EKG)
  2. Alat intubasi
  3. Defibrilator
  4. Tabung oksigen

Prognosis

Prognosis Cardiorespiratory Arrest umumnya dubia ad malam, tergantung pada waktu dilakukannya penanganan medis.

Baca juga : Gagal Jantung

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan pesan di kolom komentar. Salam Sehat!!